84 Wisatawan Terseret Arus Selama Liburan, Satu Meninggal
Ni Komang Erviani
Sebanyak 84 wisatawan terseret arus di pantai-pantai bagian selatan Bali selama masa liburan sekolah lalu. Satu orang diantaranya meninggal dunia, yakni seorang wisatawan domestik asal Jawa pada 26 Juni di Pantai Oberoi. Demikian catatan Badan Penyelamat Wisata Tirta (Balawista) Kabupaten Badung selama masa libur pertengahan Juni sampai akhir pekan lalu.
Menurut Pengawas Staf Balawista Badung Ketut Sandi, kasus wisatawan terseret arus paling banyak terjadi di kawasan Pantai Kuta. Sisanya terjadi di kawasan Nusa Dua, Seminyak dan Legian. “Kejadian terseret arus paling banyak tentu saja di Pantai Kuta karena pengunjung Pantai Kuta paling banyak,” jelas Sandi.
Sebagian besar kasus terseret arus dialami wisatawan domestik asal berbagai kota di Indonesia seperti Jakarta, Semarang, Surabaya, dan lainnya. Sebagian korban teseret arus juga wisatawan asing seperti dari Rusia dan Australia.
Kasus wisatawan terseret arus, ujarnya, dipicu oleh banyak faktor. Salah satu faktor yang paling banyak terjadi adalah wisatawan berenang di lokasi yang tidak diperbolehkan. Untuk menandai lokasi-lokasi yang dilarang berenang, Balawista telah memasang bendera merah di beberapa titik di sepanjang pantai. “Banyak sekali wisatawan yang cuek, melanggar larangan-larangan berenang yang sudah kita pasang,” cerita pria asal Kuta itu.
Banyaknya wisatawan yang melanggar, seringkali tertipu oleh arus laut yang terlihat tenang. “Jadi ketika mereka melihat arusnya tenang, mereka cuek. Padahal kami meletakkan larangan berenang tidak sembarangan. Arus yang tenang itu bisa tiba-tiba berubah ganas,” tambahnya.
Selain karena melanggar larangan berenang, banyak juga kasus terseret arus karena wisatawan tidak bisa berenang, kurang pemanasan sebelum berenang, atau memiliki penyakit menahun yang tiba-tiba kumat seperti epilepsi.
Menurut Sandi, pihaknya telah melakukan langkah antisipasi selama masa liburan lalu dengan menyiagakan 128 petugas penyelamat. Para petugas dibagi dalam dua shift, yakni pagi dan malam hari. “Kami sudah melakukan upaya optimal untuk menyelamatkan para pengunjung pantai,” tambah Sandi.
Di wilayah Kuta sendiri, Balawista Bali menjaga pantai dari enam pos pemantau di pantai sepanjang 4 kilometer.
Koordinator Balawista Badung Made Suparka menambahkan, untuk penanganan korban terseret arus Balawisata telah menjalin kerjasama dengan Politeknik Kesehatan Bali. “Jadi petugas kesehatan dari Politeknik Kesehatan selalu standby untuk memberi bantuan medis ringan bagi korban terseret arus,” kata Suparka.
Selama masa liburan sekolah lalu, Jumlah kunjungan wisatawan ke Pantai Kuta mengalami lonjakan dibandingkan hari-hari biasa. “Selama liburan lalu benar-benar full wisatawan. Apalagi kalau sore hari. Bisa ribuan orang berdesak-desakan di sepanjang pantai,” ujar Ketua Satuan Tugas Pantai Kuta I Gusti Ngurah Tresna.
english
indonesian
0 comments
Kick things off by filling out the form below.
Leave a Comment