Sekadar Mengungkap Warna Warni Kehidupan Masyarakat Bali
Random header image... Refresh for more!

Posts from — 12 May 2011

Industri Pariwisata Diminta Tak Gunakan Simbol Agama

Oleh: Ni Komang Erviani

Para pelaku pariwisata diimbau untuk tidak lagi menggunakan simbol-simbol keagamaan maupun benda-benda yang disakralkan hanya semata untuk daya tarik wisata. Pasalnya, Pemerintah Provinsi Bali
saat ini tengah merancang peraturan daerah tentang kepariwisataan budaya Bali yang salah satunya mengatur penggunaan simbol-simbol keagamaan. Dalam rancangan perda tersebut, setiap orang yang
menggunakan simbol-simbol keagamaan maupun benda-benda yang disakralkan hanya semata untuk daya tarik wisata akan diancam penjara.

Lama hukuman penjara yang bisa dikenakan terhadap pelanggaran Perda tersebut mencapai maksimal 6 bulan. Ancaman hukuman lain adalah denda dengan nilai maksimal Rp 50 juta. Selain itu, Perda juga mengatur larangan memanfaatkan upacara keagamaan semata untuk kepentingan
pariwisata.

[Read more →]

12 May 2011   No Comments

Mekanik Merpati Dimakamkan di Bali

Joko Santoso (41 tahun), mekanik PT. Merpati Nusantara Airlines yang ikut menjadi korban dalam kecelakaan pesawat Merpati di Perairan Kaimana Papua Barat pada Sabtu (7/5), dimakamkan secara islam di Kuburan Bugis di Jalan Pendidikan, Suwung, Denpasar, Selasa (10/5) siang. Ikut mengiringi pemakaman korban Joko, yakni keluarga besarnya, kerabat, beserta beberapa rekan kerja korban dari PT. Merpati Nusantara Airlines.

Sebelum dimakamkan, jenazah almarhum yang merupakan anak kedua dari 7 bersaudara sempat disholatkan terlebih dahulu di Masjid Darul Huda, Jalan Letda Made Putra, Denpasar. Istri korban, Siti Muawana yang didampingi dua anak almarhum, tampak syok kehilangan suaminya. Siti terlihat terus menangis selama proses pemakaman.

Almarhum Joko sudah bekerja sebagai mekanik di PT. Merpati Nusantara Airlines selama 21 tahun. Pria asal Blitar itu, selama ini menetap di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Pemakaman dilakukan di Bali karena ada banyak kerabatnya yang kini menetap di Bali. Jenazah almarhum diterima keluarga di Bali pada Senin (9/5) malam.

Priharyono, General Manager Enginering Merpati Airlines Cabang Surabaya, sempat menyatakan rasa duka citanya kepada keluarga korban saat jenazah hendak disholatkan. “Kita semua berduka. Saudara kita telah gugur dalam menjalankan tugas,” ujarnya.

Priharyono juga mengajak semua kerabat almarhum untuk memberi semangat kepada keluarganya agar tabah dan ikhlas. “Mari kita beri semangat ke keluarga supaya tetap diberi ketabahan, keimanan, serta keikhlasan,”tambah Priharyono.

Pesawat Merpati Nusantara Airlines jenis MA-60 jatuh di perairan Kaimana, Papua Barat, sekitar 500 meter dari Bandara Utarom, Sabtu (7/5) siang. Pesawat naas itu membawa 21 penumpang dan 6 awak pesawat. Hingga Selasa (10/5) pagi, sebanyak 25 jenazah korban sudah ditemukan tim SAR di sekitar perairaan Kaimana. Dua jenazah awal pesawat, terdiri dari pilot dan co pilot masih dalam pencarian.(Ni Komang Erviani) 

10 May 2011   No Comments

Polisi Ambil Bagian dalam Tumpek Landep

Oleh:Ni Komang Erviani

Ada yang berbeda di Markas Brimob Polda Bali, Tohpati, Denpasar, Sabtu (7/5) pagi. Sejumlah anggota brimob yang beragama Hindu, bersama keluarganya, menggunakan pakaian adat Bali melakukan persembahyangan di Pura Padma Bhuana, pura yang terletak di areal Markas Brimob.

Namun berbeda dengan persembahyangan biasa, hari itu ribuan senjata operasional brimob ikut diupacarai. Jenisnya beragam, mulai dari pistol, senjata laras panjang, hingga senapan serbu jenis MK4 yang hanya digunakan untuk kegiatan pertahanan dalam peperangan.

Sejumlah kendaraan operasional seperti sepeda motor sampai mobil, diparkir di areal pura untuk ikut diupacarai. Diantaranya  terlihat kendaraan watercanon, kendaraan lapis baja barakuda, kendaraan gegana penjinak bom, dan sejumlah kendaraan operasional lainnya. Anyaman
janur tampak menghias kendaraan-kendaraan tersebut.

Persembahyangan hari itu memang spesial, dalam rangka merayakan Hari Tumpek Landep. “Semua senjata yang digunakan kesatuan kami, diupacarai setiap Tumpek Landep. Ini merupakan tradisi khas yang hanya dilakukan kesatuan kami di Bali, untuk menghormati tradisi Umat Hindu di sini.
Segala yang dilakukan untuk kebaikan, tentu kami dukung,” tegas Kepala Satuan Brimob Polda Bali, Komisaris Besar Heni Sulistiya.

Tumpek Landep dirayakan Umat Hindu setiap hari saniscara kliwon wuku landep, atau setiap 210 hari sekali. Tumpek Landep merupakan hari raya pemujaan kepada Sang Hyang Siwa Pasupati sebagai dewanya taksu.

Pada masa lalu, dan masih dilakukan sampai sekarang, Tumpek Landep dipercaya sebagai hari yang baik untuk melakukan pembersihan dan penyucian berbagai pusaka leluhur seperti keris, tombak, dan berbagai benda lain dari besi. Itu sebabnya Tumpek Landep lebih akrab disebut sebagai otonan besi. Namun dalam perkembangannya, umat Hindu di Bali banyak melakukan upacara terhadap motor, mobil, maupun perkakas rumah tangga dan peralatan kerja yang terbuat dari besi.

Pemangku Pura Padma Bhuana, Jero Mangku Made Sukarma, menilai upacara terhadap berbagai peralatan dari besi sah-sah saja dilakukan.”Di balik semua upacara itu, inti Tumpek Landep adalah supaya kita diberi berkah ketajaman pikiran dan ketangguhan kita dalam memperjuangkan hal yang
benar,” jelasnya.

Upacara terhadap senjata kepolisian dan segala bentuk sarana prasarana penunjangnya, menurut Jero Mangku Sukarma, merupakan simbol bahwa semua senjata dan peralatan itu harus digunakan dengan benar. “Semua senjata itu harus digunakan dengan terkendali, agar tidak ngawur
penggunaannya dan benar-benar sesuai dengan manfaatnya,” ujarnya. \

Upacara tersebut juga dilakukan sebagai bentuk syukur manusia terhadap segala kemudahan yang diberikan melalui berbagai peralatan tersebut. “Intinya, kita hidup harus bersyukur. Supaya kita juga diberikan keselamatan oleh Tuhan untuk penggunaan segala peralatan itu,”tambah
dia.

Hari Raya Tumpek Landep masih satu rangkaian dengan Hari Raya Saraswati yang merupakan hari perayaan turunnya ilmu pengetahuan. Tepat di Hari Tumpek Landep, segala ilmu pengetahuan yang diturunkan pada Hari Saraswati dimohonkan agar lebih bertuah. Pada Hari Tumpek Landep, umat Hindu memohon agar diberikan ketajaman pikiran dan hati.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali I Gusti Ngurah Sudiana menjelaskan Tumpek Landep merupakan hari pemujaan terhadap Sang Hyang Pasupati yang dalam realitasnya distanakan pada senjata. Karena distanakan pada senjata, maka senjata itu diberikan upacara untuk membuatnya lebih bertuah.

Pada zaman dulu, kata Sudiana, upacara Tumpek Landep secara besar-besaran banyak dilakukan di tempat-tempat penyimpanan dan pembuatan senjata yang ketika itu berupa keris, tombak, atau pedang. Dalam perkembangannya, memang upacara juga dilakukan terhadap semua
senjata dari besi, baik senjata dalam arti sesungguhnya untuk berperang maupun senjata untuk kehidupan sehari-hari seperti perabot tukang, perabot pertanian atau perabotan untuk industri. Bahkan masyarakat juga mengupacarai komputer, mobil, laptop, dan lainnya yang dianggap sebagai peralatan yang membantu melaksanakan tugas sehari-hari.

“Hal ini dibenarkan menurut agama, karena benda-benda itu juga bisa dibilang senjata.  Mobil adalah senjata angkutan, komputer merupakan senjata untuk komunikasi. Pokoknya untuk memudahakan kehidupan sehari-hari,” ujar Sudiana.

Dijelaskan, tumpek landep sebenarnya memiliki makna filosofi “landepin idep” atau mempertajam pikiran. “Senjata yang paling utama dari manusia adalah pikiran. Jadi tumpek landep bermakna, saatnya mempertajam pikiran dan pengetahuan. Karena pikiran tanpa tanpa

pengetahuan tidak berarti apa-apa,” tegasnya. Tumpek landep, tambahnya, merupakan saatnya manusia mengucap rasa syukur atas diberikannya alat-alat berupa senjata-senjata untuk mempermudah kehidupan.

9 May 2011   No Comments