Bali Gagal Capai Target Tanam 8,5 Juta Pohon

HIJAUKAN LAHAN KERING-Aksi penanaman pohon dilakukan pemerintah bersama masyarakat di lahan kering di Desa Tulamben, Kabupaten Karangasem, yang terletak tepat di kaki Gunung Agung, Jumat (2/12). Hingga Desember ini, Bali baru mampu menanam 724.700 batang pohon dari total 8,59 juta batang pohon yang ditargetkan tanam dalam tahun ini untuk menyukseskan program tanam satu milyar pohon karena terkendala musim hujan yang belum merata. (photo by: Ni Komang Erviani)
Ni Komang Erviani, Karangasem
Program nasional penanaman satu milyar pohon yang dicanangkan Presiden RI pada akhir tahun 2010 lalu, ternyata tidak berjalan baik di wilayah Bali. Bali gagal memenuhi target penanaman yang sudah ditetapkan sebanyak 8,59 juta (8.595.755) pohon, atau setara dengan 21.031 hektar.
Menurut Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Bali, I Gusti Ngurah Wiranatha, dalam program penanaman satu milyar pohon, Bali ditargetkan menanam 8,59 juta batang pohon dalam periode 1 Februari 2011-31 Januari 2012. Namun hingga awal Desember ini, Bali baru berhasil menanam 724.700 batang pohon atau hanya 8,4 persen dari target seharusnya.
“Kendalanya karena musim hujan yang belum merata. Kalau dipaksakan menanam di musim kemarau, kami khawatir pohon yang ditanam justru mati,” jelas Wiranatha di sela-sela aksi penanaman 1.000 pohon di lahan kering di Desa Tulamben, Kabupaten Karangasem, Jumat (2/12). Aksi penanaman pohon itu sendiri digelar dalam rangka memperingati hari menanam pohon Indonesia, bulan menanam nasional serta gerakan perempuan tanam pohon.
Dijelaskan Wiranatha, penanaman pohon diprioritaskan di wilayah-wilayah yang sudah mendapat guyuran hujan saja. “Paling banyak kita tanam di wilayah Tabanan, Jembrana, dan Bangli. Baru sebagian di Karangasem. Sedangkan kabupaten lain belum sama sekali,” ujarnya.
Penanaman pohon dilakukan di kawasan hutan maupun di luar kawasan hutan (tanah milik). Jenis pohon yang ditanam di kawasan hutan antara lain mahoni, ampupu, pulai, puspa, gmelina, dan kemiri. Sedangkan, pohon yang ditanam di tanah milik masyarakat diprioritaskan jenis pohon yang mempunyai nilai ekonomi tinggi seperti albesia, jabon, kajimas, jati, cempaka, majegau, kemiri, mangga, sawo manila, dan lainnya. Dengan penanaman pohon-pohon bernilai ekonomi, diharapkan masyarakat merasa memiliki pohon-pohon itu dan mau memeliharanya dengan baik. “Tingkat keberhasilan dari penanaman penanaman pohon itu kita perkirakan sekitar 80 persen,” ungkap Wiranatha optimis.
Ditegaskan Wiranatha, faktor musim tidak bisa diabaikan dalam penanaman pohon karena target utamanya bukan jumlah yang ditanam, tetapi jumlah yang tumbuh. Karenanya, pemerintah lebih mendorong keterlibatan masyarakat untuk penanaman dan pemeliharaannya. Dalam peringatan hari menanam pohon Indonesia di Desa Tulamben Jumat (2/11) misalnya, hanya dilakukan penanaman 1.000 pohon dari total 12.000 yang direncanakan. “Karena kendala musim, yakni hujan belum merata, maka hanya simbolis ditanam hari ini 1000 pohon, dan akan dipelihara kelompok tani Desa Tulamben. Sisanya 11.000 batang sudah komitmen dari kelompok tani menanamnya saat musim hujan,” tambah dia.
Meski jauh dari target 8,59 juta pohon, Wiranatha mengaku masih akan berusaha mengejar target tersebut hingga tenggat waktu 31 Januari tahun depan. “Masih ada waktu dua bulan ini. Kita berharap musim hujan bisa lebih merata, sehingga di Desember sampai Januari ini kita bisa mengejar target,” ujarnya.
Kalaupun tidak mencapai target, kata dia, penanaman akan dilanjutkan dalam tahun depan. “Program lanjutan tahun depan mungkin akan menargetkan 8,5 juta pohon lagi. Jadi, kumulatif. Kita berusaha penuhi target yang mundur tahun depan, sekaligus berusaha memenuhi target di tahun depan,” jelas Wiranatha.
Gubernur Bali Made Mangku Pastika yang memimpin penanaman pohon mengharapkan adanya peningkatan kepedulian masyarakat dalam menyukseskan aksi penanaman satu milyar pohon. Aksi yang sejalan dengan program Bali Clean and Green yang dicanangkan Pemerintah Provinsi Bali itu, menurutnya sangat penting untuk memecah masalah lingkungan maupun ekonomi. Pasalnya, lahan yang tidak dihijaukan identik dengan kekeringan, yang juga menjadi salah satu penyebab kemiskinan. “Kita masih dihadapkan masalah kekeringan, masalah krisis air bersih. Di mana ada kekeringan, di sana ada kemiskinan. Di mana ada kemiskinan, di situ ada kebodohan. Rantai ini harus diputus. Salah satunya dengan menanam lebih banyak pohon, sehingga tidak terjadi lagi kekeringan,” kata dia.
“Coba kita bayangkan, ada 10.000 pohon di tempat ini, maka di tempat ini tidak akan panas begini,” ujarnya di hadapan peserta penanaman pohon dari kalangan masyarakat, pegawai negeri sipil, maupun siswa sekolah dasar.
Bupati Karangasem Wayan Geredeg menambahkan kesadaran masyarakat di wilayahnya yang dikenal rawan kekeringan untuk menanam pohon sudah mengalami peningkatan. Hal itu terutama karena masyarakat juga telah merasa mendapatkan keuntungan ekonomi dari aksi penanaman pohon-pohon bernilai produktif seperti albesia. “Sangat menggembirakan karena masyarakat sudah dapat melihat manfaat penghijauan dari segi ekonomi dan ekologi. Kami yakin ke depan Karangasem akan menjadi wilayah yang hijau,” tegasnya.
3 December 2011 No Comments
english
indonesian