Sekadar Mengungkap Warna Warni Kehidupan Masyarakat Bali
Random header image... Refresh for more!

Perlu Penyelamatan Danau Batur Segera

Danau Batur mulai tercemar bahan kimia (photo by: Ni Komang Erviani)

Danau Batur tercemar bahan kimia (photo by: Ni Komang Erviani)

Ni Komang Erviani, Bangli

Upaya penyelamatan Danau Batur kini menjadi prioritas pemerintah, setelah ditemukan adanya indikasi pencemaran berbagai jenis bahan kimia buatan pada air danau terluas di Bali itu. Menurut Kepala Badan Lingkungan Hidup Provinsi Bali, Anak Agung Gde Alit Sastrawan, Jumat (9/12), perlu rencana aksi nyata untuk menyelamatkan danau tersebut segera, mengingat Danau Batur menjadi penopang utama sumber air tanah Bali.

Alit Sastrawan menjelaskan, BLH Bali telah menemukan adanya kandungan unsur natrium dan fosfat dalam air Danau Batur. “Hasil pengamatan kami terhadap kualitas air danau, unsur natrium dan fosfat cukup dominan dan bahkan sudah melebihi ambang batas. BOD (biological oxygen demand) terlalu tinggi. Itu artinya tidak sehat kalau dikonsumsi,” jelasnya usai memimpin rapat tentang rencana aksi penyelamatan Danau Batur di Wiswa Sabha, Denpasar. Jumat (9/12).

Tingginya kandungan bahan kimia dalam air danau tersebut, diduga tidak terlepas dari aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar danau. Diantaranya aktivitas pertanian dengan pupuk dan pestisida kimia maupun budidaya ikan dengan keramba yang menggunakan pakan konsentrat buatan. “Pencemaran terutama oleh aktivitas pertanian, yakni karena penggunaan pupuk dan pestisida kimia. Ada juga aktivitas budidaya ikan dalam keramba dengan pakan konsentrat yang juga dapat mengganggu habitat tanah,” jelas dia.

Kandungan natrium dan fosfat yang terlalu tinggi, berisiko pada terjadinya over populasi tanaman air akibat terjadinya kesuburan yang terlalu tinggi. “Kalau tanaman airnya terlalu banyak, jelas akan mengganggu habitat ikan di dalam danau, dan pastinya merusak ekosistem di dalamnya,”Alit Sastrawan menegaskan. Tidak hanya aktivitas pertanian kimia dan budidaya ikan keramba, BLH juga mengkhawatirkan aktivitas galian c di sekitar kawasan Batur dapat mengancam ekosistem danau.

Maraknya aktivitas yang berpotensi semakin merusak kondisi danau, menurut Alit Sastrawan, menjadi warning atas pentingnya upaya penyelamatan danau segera. Alit menyatakan Danau Batur memiliki peran sangat strategis karena menjadi sumber daya air untuk beberapa wilayah kabupaten seperti Buleleng timur, Karangasem, Bangli, Klungkung, Gianyar. Salah satu sumber mata air terbesar yang bersumber dari Danau Datur, adalah Tampak Siring. Danau Batur merupakan danau terbesar dari empat danau penopang sumber air Bali, selain Danau Beratan di kabupaten Tabanan serta Danau Buyan dan Danau Tamblingan di Kabupaten Buleleng.

“Sayangnya kita lihat di seputaran Danau Batur kondisinya sekarang cukup memprihatinkan, Ada aktivitas pertanian, pariwisata, pertambangan galian c, dan sebagainya, yang berpotensi menimbulkan kerusakan danau,” keluhnya.

Langkah penyelamatan Danau Batur menurutnya tidak hanya strategis untuk Bali, tetapi juga untuk kepentingan nasional. Pasalnya, Danau Batur merupakan danau kaldera terbesar di Indonesia dan akan dikembangkan menjadi geopark dunia. “Danau Batur menjadi satu dari 15 danau di Indonesia yang menjadi fokus program pemerintah pusat,” jelas dia.

Rencana aksi untuk penyelamatan Danau Batur, tambah Alit Sastrawan, saat ini tengah dalam penyusunan. Namun pihaknya sudah membentuk forum untuk aksi penyelamatan danau batur yang beranggotakan berbagai unsur yakni pemerintah, masyarakat, maupun NGO. “Forum inilah yang akan mengembangkan program terpadu sekaligus melakukan evaluasi, sehingga ada langkah-langkah konkrit untuk upaya penyelamatan Danau Batur,” jelasnya.

Salah satu langkah yang akan diambil untuk menekan kerusakan danau adalah mencarikan alternatif mata pencaharian bagi masyarakat sekitarnya agar tidak merusak lingkungan sekitarnya. Mata pencaharian yang tepat menurutnya adalah mengembangkan ekonomi kreatif, seperti mengembangkan kerajinan bambu. Dengan begitu, masyarakat juga diharapkan terdorong untuk menanam bambu yang merupakan tanaman dengan kekuatan mengikat air. “Langkah-langkah lainnya masih kita pikirkan. Solusinya sebenarnya tidak terlalu rumit. Hanya perlu komitmen semua pihak,” tambahnya.

I Nyoman Gamayana, Perbekel Desa Kedisan, menyatakan dukungannya atas rencana penyelamatan Danau Batur. Gamayana mengakui, kondisi Danau Batur saat ini sudah jauh berbeda dengan masa lalu. “Kalau dulu, kami berani minum air langsung dari Danau. Tapi sekarang air danaunya kotor dan bau, kami nggak berani,” jelas Gamayana.

Meski demikian, Gamayana mengharapkan upaya penyelamatan Danau Batur tidak mengabaikan kepentingan ekonomi masyarakat sekitarnya. “Kami mendukung penyelamatan danau, memang itu perlu. Tapi kami harap dilakukan dengan bijaksana, karena banyak masyarakat kami yang juga menggantungkan hidup dari sana,” tambah dia.

10 December 2011   No Comments