Posted by admin | Under Lingkungan
5:51 10 December 2011


Danau Batur tercemar bahan kimia (photo by: Ni Komang Erviani)
Ni Komang Erviani, Bangli
Upaya penyelamatan Danau Batur kini menjadi prioritas pemerintah, setelah ditemukan adanya indikasi pencemaran berbagai jenis bahan kimia buatan pada air danau terluas di Bali itu. Menurut Kepala Badan Lingkungan Hidup Provinsi Bali, Anak Agung Gde Alit Sastrawan, Jumat (9/12), perlu rencana aksi nyata untuk menyelamatkan danau tersebut segera, mengingat Danau Batur menjadi penopang utama sumber air tanah Bali.
Alit Sastrawan menjelaskan, BLH Bali telah menemukan adanya kandungan unsur natrium dan fosfat dalam air Danau Batur. “Hasil pengamatan kami terhadap kualitas air danau, unsur natrium dan fosfat cukup dominan dan bahkan sudah melebihi ambang batas. BOD (biological oxygen demand) terlalu tinggi. Itu artinya tidak sehat kalau dikonsumsi,” jelasnya usai memimpin rapat tentang rencana aksi penyelamatan Danau Batur di Wiswa Sabha, Denpasar. Jumat (9/12).
Tingginya kandungan bahan kimia dalam air danau tersebut, diduga tidak terlepas dari aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar danau. Diantaranya aktivitas pertanian dengan pupuk dan pestisida kimia maupun budidaya ikan dengan keramba yang menggunakan pakan konsentrat buatan. “Pencemaran terutama oleh aktivitas pertanian, yakni karena penggunaan pupuk dan pestisida kimia. Ada juga aktivitas budidaya ikan dalam keramba dengan pakan konsentrat yang juga dapat mengganggu habitat tanah,” jelas dia.
Kandungan natrium dan fosfat yang terlalu tinggi, berisiko pada terjadinya over populasi tanaman air akibat terjadinya kesuburan yang terlalu tinggi. “Kalau tanaman airnya terlalu banyak, jelas akan mengganggu habitat ikan di dalam danau, dan pastinya merusak ekosistem di dalamnya,”Alit Sastrawan menegaskan. Tidak hanya aktivitas pertanian kimia dan budidaya ikan keramba, BLH juga mengkhawatirkan aktivitas galian c di sekitar kawasan Batur dapat mengancam ekosistem danau.
Maraknya aktivitas yang berpotensi semakin merusak kondisi danau, menurut Alit Sastrawan, menjadi warning atas pentingnya upaya penyelamatan danau segera. Alit menyatakan Danau Batur memiliki peran sangat strategis karena menjadi sumber daya air untuk beberapa wilayah kabupaten seperti Buleleng timur, Karangasem, Bangli, Klungkung, Gianyar. Salah satu sumber mata air terbesar yang bersumber dari Danau Datur, adalah Tampak Siring. Danau Batur merupakan danau terbesar dari empat danau penopang sumber air Bali, selain Danau Beratan di kabupaten Tabanan serta Danau Buyan dan Danau Tamblingan di Kabupaten Buleleng.
“Sayangnya kita lihat di seputaran Danau Batur kondisinya sekarang cukup memprihatinkan, Ada aktivitas pertanian, pariwisata, pertambangan galian c, dan sebagainya, yang berpotensi menimbulkan kerusakan danau,” keluhnya.
Langkah penyelamatan Danau Batur menurutnya tidak hanya strategis untuk Bali, tetapi juga untuk kepentingan nasional. Pasalnya, Danau Batur merupakan danau kaldera terbesar di Indonesia dan akan dikembangkan menjadi geopark dunia. “Danau Batur menjadi satu dari 15 danau di Indonesia yang menjadi fokus program pemerintah pusat,” jelas dia.
Rencana aksi untuk penyelamatan Danau Batur, tambah Alit Sastrawan, saat ini tengah dalam penyusunan. Namun pihaknya sudah membentuk forum untuk aksi penyelamatan danau batur yang beranggotakan berbagai unsur yakni pemerintah, masyarakat, maupun NGO. “Forum inilah yang akan mengembangkan program terpadu sekaligus melakukan evaluasi, sehingga ada langkah-langkah konkrit untuk upaya penyelamatan Danau Batur,” jelasnya.
Salah satu langkah yang akan diambil untuk menekan kerusakan danau adalah mencarikan alternatif mata pencaharian bagi masyarakat sekitarnya agar tidak merusak lingkungan sekitarnya. Mata pencaharian yang tepat menurutnya adalah mengembangkan ekonomi kreatif, seperti mengembangkan kerajinan bambu. Dengan begitu, masyarakat juga diharapkan terdorong untuk menanam bambu yang merupakan tanaman dengan kekuatan mengikat air. “Langkah-langkah lainnya masih kita pikirkan. Solusinya sebenarnya tidak terlalu rumit. Hanya perlu komitmen semua pihak,” tambahnya.
I Nyoman Gamayana, Perbekel Desa Kedisan, menyatakan dukungannya atas rencana penyelamatan Danau Batur. Gamayana mengakui, kondisi Danau Batur saat ini sudah jauh berbeda dengan masa lalu. “Kalau dulu, kami berani minum air langsung dari Danau. Tapi sekarang air danaunya kotor dan bau, kami nggak berani,” jelas Gamayana.
Meski demikian, Gamayana mengharapkan upaya penyelamatan Danau Batur tidak mengabaikan kepentingan ekonomi masyarakat sekitarnya. “Kami mendukung penyelamatan danau, memang itu perlu. Tapi kami harap dilakukan dengan bijaksana, karena banyak masyarakat kami yang juga menggantungkan hidup dari sana,” tambah dia.
Posted by admin | Under Lingkungan
14:16 3 December 2011


HIJAUKAN LAHAN KERING-Aksi penanaman pohon dilakukan pemerintah bersama masyarakat di lahan kering di Desa Tulamben, Kabupaten Karangasem, yang terletak tepat di kaki Gunung Agung, Jumat (2/12). Hingga Desember ini, Bali baru mampu menanam 724.700 batang pohon dari total 8,59 juta batang pohon yang ditargetkan tanam dalam tahun ini untuk menyukseskan program tanam satu milyar pohon karena terkendala musim hujan yang belum merata. (photo by: Ni Komang Erviani)
Ni Komang Erviani, Karangasem
Program nasional penanaman satu milyar pohon yang dicanangkan Presiden RI pada akhir tahun 2010 lalu, ternyata tidak berjalan baik di wilayah Bali. Bali gagal memenuhi target penanaman yang sudah ditetapkan sebanyak 8,59 juta (8.595.755) pohon, atau setara dengan 21.031 hektar.
Menurut Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Bali, I Gusti Ngurah Wiranatha, dalam program penanaman satu milyar pohon, Bali ditargetkan menanam 8,59 juta batang pohon dalam periode 1 Februari 2011-31 Januari 2012. Namun hingga awal Desember ini, Bali baru berhasil menanam 724.700 batang pohon atau hanya 8,4 persen dari target seharusnya.
“Kendalanya karena musim hujan yang belum merata. Kalau dipaksakan menanam di musim kemarau, kami khawatir pohon yang ditanam justru mati,” jelas Wiranatha di sela-sela aksi penanaman 1.000 pohon di lahan kering di Desa Tulamben, Kabupaten Karangasem, Jumat (2/12). Aksi penanaman pohon itu sendiri digelar dalam rangka memperingati hari menanam pohon Indonesia, bulan menanam nasional serta gerakan perempuan tanam pohon.
Dijelaskan Wiranatha, penanaman pohon diprioritaskan di wilayah-wilayah yang sudah mendapat guyuran hujan saja. “Paling banyak kita tanam di wilayah Tabanan, Jembrana, dan Bangli. Baru sebagian di Karangasem. Sedangkan kabupaten lain belum sama sekali,” ujarnya.
Penanaman pohon dilakukan di kawasan hutan maupun di luar kawasan hutan (tanah milik). Jenis pohon yang ditanam di kawasan hutan antara lain mahoni, ampupu, pulai, puspa, gmelina, dan kemiri. Sedangkan, pohon yang ditanam di tanah milik masyarakat diprioritaskan jenis pohon yang mempunyai nilai ekonomi tinggi seperti albesia, jabon, kajimas, jati, cempaka, majegau, kemiri, mangga, sawo manila, dan lainnya. Dengan penanaman pohon-pohon bernilai ekonomi, diharapkan masyarakat merasa memiliki pohon-pohon itu dan mau memeliharanya dengan baik. “Tingkat keberhasilan dari penanaman penanaman pohon itu kita perkirakan sekitar 80 persen,” ungkap Wiranatha optimis.
Ditegaskan Wiranatha, faktor musim tidak bisa diabaikan dalam penanaman pohon karena target utamanya bukan jumlah yang ditanam, tetapi jumlah yang tumbuh. Karenanya, pemerintah lebih mendorong keterlibatan masyarakat untuk penanaman dan pemeliharaannya. Dalam peringatan hari menanam pohon Indonesia di Desa Tulamben Jumat (2/11) misalnya, hanya dilakukan penanaman 1.000 pohon dari total 12.000 yang direncanakan. “Karena kendala musim, yakni hujan belum merata, maka hanya simbolis ditanam hari ini 1000 pohon, dan akan dipelihara kelompok tani Desa Tulamben. Sisanya 11.000 batang sudah komitmen dari kelompok tani menanamnya saat musim hujan,” tambah dia.
Meski jauh dari target 8,59 juta pohon, Wiranatha mengaku masih akan berusaha mengejar target tersebut hingga tenggat waktu 31 Januari tahun depan. “Masih ada waktu dua bulan ini. Kita berharap musim hujan bisa lebih merata, sehingga di Desember sampai Januari ini kita bisa mengejar target,” ujarnya.
Kalaupun tidak mencapai target, kata dia, penanaman akan dilanjutkan dalam tahun depan. “Program lanjutan tahun depan mungkin akan menargetkan 8,5 juta pohon lagi. Jadi, kumulatif. Kita berusaha penuhi target yang mundur tahun depan, sekaligus berusaha memenuhi target di tahun depan,” jelas Wiranatha.
Gubernur Bali Made Mangku Pastika yang memimpin penanaman pohon mengharapkan adanya peningkatan kepedulian masyarakat dalam menyukseskan aksi penanaman satu milyar pohon. Aksi yang sejalan dengan program Bali Clean and Green yang dicanangkan Pemerintah Provinsi Bali itu, menurutnya sangat penting untuk memecah masalah lingkungan maupun ekonomi. Pasalnya, lahan yang tidak dihijaukan identik dengan kekeringan, yang juga menjadi salah satu penyebab kemiskinan. “Kita masih dihadapkan masalah kekeringan, masalah krisis air bersih. Di mana ada kekeringan, di sana ada kemiskinan. Di mana ada kemiskinan, di situ ada kebodohan. Rantai ini harus diputus. Salah satunya dengan menanam lebih banyak pohon, sehingga tidak terjadi lagi kekeringan,” kata dia.
“Coba kita bayangkan, ada 10.000 pohon di tempat ini, maka di tempat ini tidak akan panas begini,” ujarnya di hadapan peserta penanaman pohon dari kalangan masyarakat, pegawai negeri sipil, maupun siswa sekolah dasar.
Bupati Karangasem Wayan Geredeg menambahkan kesadaran masyarakat di wilayahnya yang dikenal rawan kekeringan untuk menanam pohon sudah mengalami peningkatan. Hal itu terutama karena masyarakat juga telah merasa mendapatkan keuntungan ekonomi dari aksi penanaman pohon-pohon bernilai produktif seperti albesia. “Sangat menggembirakan karena masyarakat sudah dapat melihat manfaat penghijauan dari segi ekonomi dan ekologi. Kami yakin ke depan Karangasem akan menjadi wilayah yang hijau,” tegasnya.
Posted by admin | Under Lingkungan
0:27 18 July 2009
Ni Komang Erviani, The Jakarta Post, Fri, 07/17/2009 1:47 PM | Bali
Environmental activists from ProFauna Indonesia rallied recently to call for the protection of endangered turtles being exploited in the illegal wildlife trade over the last few years.
The activists unfurled a 100-meter-long banner at the worldrenowned Kuta Beach, which read, “One from 1,000 will survive.”
“We invite the people of Kuta and tourists alike to care about this endangered species,” said ProFauna chairman Rosek Nursahid. Read the rest of this entry »
Posted by admin | Under Lingkungan
0:25 18 July 2009
Ni Komang Erviani
Puluhan aktivis lingkungan dari Profauna Indonesia Kamis (16/7) pagi menggelar aksi kampanye pelestarian penyu untuk mengajak wisatawan di Pantai Kuta peduli pada pelestarian penyu, hewan dilindungi secara hukum yang terancam punah akibat perdagangan. Aksi dilakukan dengan membentangkan spanduk sepanjang 100 meter bergambar 1000 ekor penyu dan bertuliskan “Only 1 from 1000 Will Survive”. Aksi juga diwarnai pembagian sticker bertuliskan pesan yang sama kepada wisatawan.
“Kami ingin membuat wisatawan dan masyarakat yang ada di Pantai Kuta ini menjadi sadar bahwa dari berbagai hasil penelitian hanya ada satu ekor penyu dari 1000 ekor yang akan bisa bertahan hidup di habitatnya. Yang lainnya akan mati karena kemampuan penyu bertahan hidup memang sangat rendah,” tegas Chairman of Profauna Rosek Nursahid dalam aksi yang juga diikuti artis Melanie Subono itu. Read the rest of this entry »
Posted by admin | Under Lingkungan, Uncategorized
0:00 18 July 2009
Ni Komang Erviani
Sebanyak 23 kepala daerah dari seluruh Indonesia pada Rabu (15/7) menandatangani kesepakatan untuk mendesak pemerintah pusat membuat payung hukum pengelolaan kebun raya daerah. Kesepakatan yang diberi nama Deklarasi Bedugul itu, dibuat pada Diskusi Ilmiah Upaya Percepatan Pembangunan Kebun Raya Daerah di Indonesia, serangkaian peringatan 50 tahun Kebun Raya Eka Karya di kawasan Bedugul Tabanan Bali.
Kesepakatan tersebut ditandatangani langsung oleh Bupati Katingan Duwel Rawing, Bupati Kuningan Aang Hamid Suganda, Bupati Samosir Mangindar Simbolon, dan Bupati Minahasa Stefanus Vreeke Runtu. Sementara 19 daerah lainnya ditandatangani oleh perwakilan masing-masing, yakni Gubernur Jambi, Gubernur Jawa Tengah, Gubernur Kalimantan Barat, Gubernur Sulawesi Selatan, Gubernur Nusa Tenggara Barat, Bupati Banyumas, Bupati Enrekang, Bupati Lampung Barat, Bupati Lombok Timur, Bupati Solok, Bupati Sanggau, Bupati Samosir, Bupati Sambas, Bupati Maros, Bupati Tebo, Walikota Balikpapan, Walikota Batam, Walikota Kendari, Ketua Otorita Batam. Deklarasi juga ditandatangani perwakilan Menteri Pekerjaan Umum dan Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof Dr Umar Anggara Jenie. Read the rest of this entry »
Posted by admin | Under Lingkungan
23:58 17 July 2009
Ni Komang Erviani , The Jakarta Post , Tabanan | Fri, 07/17/2009 1:47 PM | Bali
Twenty-three governors, regents and mayors have signed a declaration demanding a legal basis for the management of regional botanical parks across Indonesia.
The Bedugul Pact was signed Wednesday on the sidelines of a scientific discussion to mark the 50th anniversary of the Bedugul Eka Karya Botanical Park in Tabanan regency, Bali.
Among the signatories were the governors of Central Java, South Sulawesi, West Kalimantan, West Nusa Tenggara and Jambi. Read the rest of this entry »
Posted by admin | Under Lingkungan
8:39 22 March 2008
Okezone - Sabtu, 22 Maret 2008 - 22:49 wib
DENPASAR - Sembilan bayi di Rumah Sakit Sanglah tiba-tiba dihadiahi bibit pohon. Pohon-pohon tersebut diberikan khusus kepada bayi yang lahir pada World Silent Day (hari hening sedunia), 21 Maret lalu. Read the rest of this entry »
Posted by admin | Under Lingkungan
5:13 20 February 2008
Okezone - Rabu, 20 Februari 2008 - 00:09 wib
DENPASAR - Usulan Bali untuk mengadopsi konsep Hari Raya Nyepi melalui World Silent Day untuk mengurangi emisi, ternyata direspons positif oleh masyarakat internasional. Sayangnya, respons baik belum datang dari Indonesia. Respons atas usul World Silent Day yang sudah diusulkan dalam Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) pada Desember 2007 lalu itu, di antaranya datang dari masyarakat dari Amerika, Belanda, dan Jerman. Read the rest of this entry »
Posted by admin | Under Lingkungan
0:08 23 December 2007
BULELENG - Keakraban Daeng Hayak (71 tahun) dengan bom ikan dan potasium, kini tinggal sejarah. Padahal, keseharian Daeng di masa lalu tak pernah lepas dari bom ikan dan potas. Pria keturunan bugis yang lahir dan besar di Desa Sumberkima Kecamatan Gerokgak Kabupaten Buleleng Bali itu, dulunya termasuk salah satu nelayan pencari ikan dengan bom. Meski ia mengaku punya alasan untuk itu. ”Sebab saya dulu nggak tahu harus bekerja apa lagi. Sementara anak-anak harus makan dan tetap sekolah,” kenang ayah dari 10 anak itu. Read the rest of this entry »
Posted by admin | Under Lingkungan
0:05 23 December 2007
Sebagian wilayah Danau Buyan di Buleleng Bali, kini berubah menjadi padang rumput luas.
Ketika awan yang menggelayut di atas langit Danau Buyan Buleleng Bali makin gelap, Wayan Mustanda (39 tahun) tetap asyik dengan sabit di tangannya. Dua buah karung plastik besar yang dibawanya dari rumah, nyaris penuh terisi rumput. “Sekarang lebih gampang cari rumput. Apalagi setelah danau di sini surut,” terang Mustanda yang sehari-hari beternak sapi. Mencari rumput untuk pakan ternak setiap hari, sudah menjadi rutinitas Mustanda sejak masih kanak-kanak. Namun sejak beberapa tahun belakangan, Mustanda mendapatkan lahan rumput luas yang tak pernah habis dan makin hari makin meluas. Yakni di atas lahan bekas danau buyan yang surut. “Dulu danau ini luas. Sampai ujung tanggul di sana,” cerita Mustanda sambil menunjuk ke arah tanggul danau seluas 478,33 hektar itu. Read the rest of this entry »
Komentar Pembaca