
Oleh: Ni Komang Erviani
Para pelaku pariwisata diimbau untuk tidak lagi menggunakan simbol-simbol keagamaan maupun benda-benda yang disakralkan hanya semata untuk daya tarik wisata. Pasalnya, Pemerintah Provinsi Bali
saat ini tengah merancang peraturan daerah tentang kepariwisataan budaya Bali yang salah satunya mengatur penggunaan simbol-simbol keagamaan. Dalam rancangan perda tersebut, setiap orang yang
menggunakan simbol-simbol keagamaan maupun benda-benda yang disakralkan hanya semata untuk daya tarik wisata akan diancam penjara.
Lama hukuman penjara yang bisa dikenakan terhadap pelanggaran Perda tersebut mencapai maksimal 6 bulan. Ancaman hukuman lain adalah denda dengan nilai maksimal Rp 50 juta. Selain itu, Perda juga mengatur larangan memanfaatkan upacara keagamaan semata untuk kepentingan
pariwisata.
Read the rest of this entry »
Oleh:Ni Komang Erviani
Ada yang berbeda di Markas Brimob Polda Bali, Tohpati, Denpasar, Sabtu (7/5) pagi. Sejumlah anggota brimob yang beragama Hindu, bersama keluarganya, menggunakan pakaian adat Bali melakukan persembahyangan di Pura Padma Bhuana, pura yang terletak di areal Markas Brimob.
Namun berbeda dengan persembahyangan biasa, hari itu ribuan senjata operasional brimob ikut diupacarai. Jenisnya beragam, mulai dari pistol, senjata laras panjang, hingga senapan serbu jenis MK4 yang hanya digunakan untuk kegiatan pertahanan dalam peperangan.
Sejumlah kendaraan operasional seperti sepeda motor sampai mobil, diparkir di areal pura untuk ikut diupacarai. Diantaranya terlihat kendaraan watercanon, kendaraan lapis baja barakuda, kendaraan gegana penjinak bom, dan sejumlah kendaraan operasional lainnya. Anyaman
janur tampak menghias kendaraan-kendaraan tersebut.
Persembahyangan hari itu memang spesial, dalam rangka merayakan Hari Tumpek Landep. “Semua senjata yang digunakan kesatuan kami, diupacarai setiap Tumpek Landep. Ini merupakan tradisi khas yang hanya dilakukan kesatuan kami di Bali, untuk menghormati tradisi Umat Hindu di sini.
Segala yang dilakukan untuk kebaikan, tentu kami dukung,” tegas Kepala Satuan Brimob Polda Bali, Komisaris Besar Heni Sulistiya.
Tumpek Landep dirayakan Umat Hindu setiap hari saniscara kliwon wuku landep, atau setiap 210 hari sekali. Tumpek Landep merupakan hari raya pemujaan kepada Sang Hyang Siwa Pasupati sebagai dewanya taksu.
Pada masa lalu, dan masih dilakukan sampai sekarang, Tumpek Landep dipercaya sebagai hari yang baik untuk melakukan pembersihan dan penyucian berbagai pusaka leluhur seperti keris, tombak, dan berbagai benda lain dari besi. Itu sebabnya Tumpek Landep lebih akrab disebut sebagai otonan besi. Namun dalam perkembangannya, umat Hindu di Bali banyak melakukan upacara terhadap motor, mobil, maupun perkakas rumah tangga dan peralatan kerja yang terbuat dari besi.
Pemangku Pura Padma Bhuana, Jero Mangku Made Sukarma, menilai upacara terhadap berbagai peralatan dari besi sah-sah saja dilakukan.”Di balik semua upacara itu, inti Tumpek Landep adalah supaya kita diberi berkah ketajaman pikiran dan ketangguhan kita dalam memperjuangkan hal yang
benar,” jelasnya.
Upacara terhadap senjata kepolisian dan segala bentuk sarana prasarana penunjangnya, menurut Jero Mangku Sukarma, merupakan simbol bahwa semua senjata dan peralatan itu harus digunakan dengan benar. “Semua senjata itu harus digunakan dengan terkendali, agar tidak ngawur
penggunaannya dan benar-benar sesuai dengan manfaatnya,” ujarnya. \
Upacara tersebut juga dilakukan sebagai bentuk syukur manusia terhadap segala kemudahan yang diberikan melalui berbagai peralatan tersebut. “Intinya, kita hidup harus bersyukur. Supaya kita juga diberikan keselamatan oleh Tuhan untuk penggunaan segala peralatan itu,”tambah
dia.
Hari Raya Tumpek Landep masih satu rangkaian dengan Hari Raya Saraswati yang merupakan hari perayaan turunnya ilmu pengetahuan. Tepat di Hari Tumpek Landep, segala ilmu pengetahuan yang diturunkan pada Hari Saraswati dimohonkan agar lebih bertuah. Pada Hari Tumpek Landep, umat Hindu memohon agar diberikan ketajaman pikiran dan hati.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali I Gusti Ngurah Sudiana menjelaskan Tumpek Landep merupakan hari pemujaan terhadap Sang Hyang Pasupati yang dalam realitasnya distanakan pada senjata. Karena distanakan pada senjata, maka senjata itu diberikan upacara untuk membuatnya lebih bertuah.
Pada zaman dulu, kata Sudiana, upacara Tumpek Landep secara besar-besaran banyak dilakukan di tempat-tempat penyimpanan dan pembuatan senjata yang ketika itu berupa keris, tombak, atau pedang. Dalam perkembangannya, memang upacara juga dilakukan terhadap semua
senjata dari besi, baik senjata dalam arti sesungguhnya untuk berperang maupun senjata untuk kehidupan sehari-hari seperti perabot tukang, perabot pertanian atau perabotan untuk industri. Bahkan masyarakat juga mengupacarai komputer, mobil, laptop, dan lainnya yang dianggap sebagai peralatan yang membantu melaksanakan tugas sehari-hari.
“Hal ini dibenarkan menurut agama, karena benda-benda itu juga bisa dibilang senjata. Mobil adalah senjata angkutan, komputer merupakan senjata untuk komunikasi. Pokoknya untuk memudahakan kehidupan sehari-hari,” ujar Sudiana.
Dijelaskan, tumpek landep sebenarnya memiliki makna filosofi “landepin idep” atau mempertajam pikiran. “Senjata yang paling utama dari manusia adalah pikiran. Jadi tumpek landep bermakna, saatnya mempertajam pikiran dan pengetahuan. Karena pikiran tanpa tanpa
pengetahuan tidak berarti apa-apa,” tegasnya. Tumpek landep, tambahnya, merupakan saatnya manusia mengucap rasa syukur atas diberikannya alat-alat berupa senjata-senjata untuk mempermudah kehidupan.

"Bintang Tiga", foto karya Zul T Edoardo yang memperlihatkan nelayan pendukung Jusuf Kalla-Wiranto di depan sebuah mobil Mercy yang dinaiki Jusuf Kalla saat berkunjung ke Pasar Ikan Kedonganan Badung. Dua kondisi ekstrem berbeda yang menunjukkan adanya realitas kesenjangan ekonomi dan sosial di masyarakat kita saat ini.
Oleh: Ni Komang Erviani
Pemungutan suara pemilu legislatif telah usai 8 April lalu. Begitu juga pemungutan suara Pemilu presiden dan wakil presiden telah berjalan lancar pada 9 Juli lalu. Namun nuansa pesta demokrasi justru baru terasa di ruang pamer Museum Bali di Jalan Mayor Wisnu Denpasar sejak Senin (3/8) hingga Minggu (9/8).
Sebanyak 55 karya foto terpajang apik di ruang pamer berukuran sekitar 18 x 8 meter persegi itu. Foto-foto yang ditampilkan beragam, tetapi tetap dengan satu tema yang sama yakni pesta demokrasi. Semuanya adalah karya dari 17 orang fotografer Bali yang tergabung dalam Komunitas Pewarta Foto Bali. Read the rest of this entry »
THE JAKARTA POST, Sat, 02/28/2009 11:11 AM | World
INDONESIA: Indonesian Culture and Tourism Minister Jero Wacik signed a memorandum of understanding (MOU) on culture with Cambodian Minister of Culture and Fine Arts Him Chhem at the Discovery Kartika Plaza Hotel in Nusa Dua, Bali, on Thursday.
The cooperation covers the research and development of culture, education and training, joint promotion of culture and arts, world heritage, dialogues on culture and arts, and cultural information exchanges Read the rest of this entry »

Tari legong punya riwayat nan panjang. Bermula dari Desa Ketewel, legong kemudian berkembang menurut gaya-gaya yang diolah para empu tari di pelbagai desa kawasan Pulau Dewata. Legong topeng diperkirakan menjadi cikal bakal tarian ini. Meski ada pergeseran, tari legong diyakini akan tetap lestari.
Alunan nada bersemangat seperangkat gamelan yang dimainkan Sekaa Semara Pegulingan Gunung Jati menyapa para tamu di Balerung Stage. Di panggung pertunjukkan sempit di Desa Peliatan, Ubud, Bali, itu sesosok penari tiba-tiba muncul dari balik tirai yang membalut sepasang candi bentar. Read the rest of this entry »

Ni Wayan Wiwin Oktarini dan teman-temannya terlihat sibuk. Gadis sembilan tahun itu menghias gelungan, sejenis mahkota berwarna keemasan. Satu per satu bunga kamboja dipasangkan. Dan, gelungan yang bakal dipakai untuk menari telah siap dikenakan.
Wiwin dan teman-temannya bergegas menuju salah satu bale di Pura Payogan Agung. ”Tadi minum es ya?” tanya Luh Ana, 17 tahun, kakak pendamping mereka yang juga mantan penari legong topeng. Wiwin mengangguk sambil tersenyum.
Rupanya, hari itu Wiwin sempat minum es gara-gara lupa kalau kelompok legong topengnya akan medal. Medal adalah istilah bahasa Bali yang biasa digunakan bila legong topeng Pura Payogan Agung akan mentas di luar pura. Read the rest of this entry »
Komentar Pembaca