Category — spiritual
Industri Pariwisata Diminta Tak Gunakan Simbol Agama
Oleh: Ni Komang Erviani
Para pelaku pariwisata diimbau untuk tidak lagi menggunakan simbol-simbol keagamaan maupun benda-benda yang disakralkan hanya semata untuk daya tarik wisata. Pasalnya, Pemerintah Provinsi Bali
saat ini tengah merancang peraturan daerah tentang kepariwisataan budaya Bali yang salah satunya mengatur penggunaan simbol-simbol keagamaan. Dalam rancangan perda tersebut, setiap orang yang
menggunakan simbol-simbol keagamaan maupun benda-benda yang disakralkan hanya semata untuk daya tarik wisata akan diancam penjara.
Lama hukuman penjara yang bisa dikenakan terhadap pelanggaran Perda tersebut mencapai maksimal 6 bulan. Ancaman hukuman lain adalah denda dengan nilai maksimal Rp 50 juta. Selain itu, Perda juga mengatur larangan memanfaatkan upacara keagamaan semata untuk kepentingan
pariwisata.
12 May 2011 No Comments
Polisi Ambil Bagian dalam Tumpek Landep
Oleh:Ni Komang Erviani
Ada yang berbeda di Markas Brimob Polda Bali, Tohpati, Denpasar, Sabtu (7/5) pagi. Sejumlah anggota brimob yang beragama Hindu, bersama keluarganya, menggunakan pakaian adat Bali melakukan persembahyangan di Pura Padma Bhuana, pura yang terletak di areal Markas Brimob.
Namun berbeda dengan persembahyangan biasa, hari itu ribuan senjata operasional brimob ikut diupacarai. Jenisnya beragam, mulai dari pistol, senjata laras panjang, hingga senapan serbu jenis MK4 yang hanya digunakan untuk kegiatan pertahanan dalam peperangan.
Sejumlah kendaraan operasional seperti sepeda motor sampai mobil, diparkir di areal pura untuk ikut diupacarai. Diantaranya terlihat kendaraan watercanon, kendaraan lapis baja barakuda, kendaraan gegana penjinak bom, dan sejumlah kendaraan operasional lainnya. Anyaman
janur tampak menghias kendaraan-kendaraan tersebut.
Persembahyangan hari itu memang spesial, dalam rangka merayakan Hari Tumpek Landep. “Semua senjata yang digunakan kesatuan kami, diupacarai setiap Tumpek Landep. Ini merupakan tradisi khas yang hanya dilakukan kesatuan kami di Bali, untuk menghormati tradisi Umat Hindu di sini.
Segala yang dilakukan untuk kebaikan, tentu kami dukung,” tegas Kepala Satuan Brimob Polda Bali, Komisaris Besar Heni Sulistiya.
Tumpek Landep dirayakan Umat Hindu setiap hari saniscara kliwon wuku landep, atau setiap 210 hari sekali. Tumpek Landep merupakan hari raya pemujaan kepada Sang Hyang Siwa Pasupati sebagai dewanya taksu.
Pada masa lalu, dan masih dilakukan sampai sekarang, Tumpek Landep dipercaya sebagai hari yang baik untuk melakukan pembersihan dan penyucian berbagai pusaka leluhur seperti keris, tombak, dan berbagai benda lain dari besi. Itu sebabnya Tumpek Landep lebih akrab disebut sebagai otonan besi. Namun dalam perkembangannya, umat Hindu di Bali banyak melakukan upacara terhadap motor, mobil, maupun perkakas rumah tangga dan peralatan kerja yang terbuat dari besi.
Pemangku Pura Padma Bhuana, Jero Mangku Made Sukarma, menilai upacara terhadap berbagai peralatan dari besi sah-sah saja dilakukan.”Di balik semua upacara itu, inti Tumpek Landep adalah supaya kita diberi berkah ketajaman pikiran dan ketangguhan kita dalam memperjuangkan hal yang
benar,” jelasnya.
Upacara terhadap senjata kepolisian dan segala bentuk sarana prasarana penunjangnya, menurut Jero Mangku Sukarma, merupakan simbol bahwa semua senjata dan peralatan itu harus digunakan dengan benar. “Semua senjata itu harus digunakan dengan terkendali, agar tidak ngawur
penggunaannya dan benar-benar sesuai dengan manfaatnya,” ujarnya. \
Upacara tersebut juga dilakukan sebagai bentuk syukur manusia terhadap segala kemudahan yang diberikan melalui berbagai peralatan tersebut. “Intinya, kita hidup harus bersyukur. Supaya kita juga diberikan keselamatan oleh Tuhan untuk penggunaan segala peralatan itu,”tambah
dia.
Hari Raya Tumpek Landep masih satu rangkaian dengan Hari Raya Saraswati yang merupakan hari perayaan turunnya ilmu pengetahuan. Tepat di Hari Tumpek Landep, segala ilmu pengetahuan yang diturunkan pada Hari Saraswati dimohonkan agar lebih bertuah. Pada Hari Tumpek Landep, umat Hindu memohon agar diberikan ketajaman pikiran dan hati.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali I Gusti Ngurah Sudiana menjelaskan Tumpek Landep merupakan hari pemujaan terhadap Sang Hyang Pasupati yang dalam realitasnya distanakan pada senjata. Karena distanakan pada senjata, maka senjata itu diberikan upacara untuk membuatnya lebih bertuah.
Pada zaman dulu, kata Sudiana, upacara Tumpek Landep secara besar-besaran banyak dilakukan di tempat-tempat penyimpanan dan pembuatan senjata yang ketika itu berupa keris, tombak, atau pedang. Dalam perkembangannya, memang upacara juga dilakukan terhadap semua
senjata dari besi, baik senjata dalam arti sesungguhnya untuk berperang maupun senjata untuk kehidupan sehari-hari seperti perabot tukang, perabot pertanian atau perabotan untuk industri. Bahkan masyarakat juga mengupacarai komputer, mobil, laptop, dan lainnya yang dianggap sebagai peralatan yang membantu melaksanakan tugas sehari-hari.
“Hal ini dibenarkan menurut agama, karena benda-benda itu juga bisa dibilang senjata. Mobil adalah senjata angkutan, komputer merupakan senjata untuk komunikasi. Pokoknya untuk memudahakan kehidupan sehari-hari,” ujar Sudiana.
Dijelaskan, tumpek landep sebenarnya memiliki makna filosofi “landepin idep” atau mempertajam pikiran. “Senjata yang paling utama dari manusia adalah pikiran. Jadi tumpek landep bermakna, saatnya mempertajam pikiran dan pengetahuan. Karena pikiran tanpa tanpa
pengetahuan tidak berarti apa-apa,” tegasnya. Tumpek landep, tambahnya, merupakan saatnya manusia mengucap rasa syukur atas diberikannya alat-alat berupa senjata-senjata untuk mempermudah kehidupan.
9 May 2011 No Comments

english
indonesian