Category — Transportasi
Bali Mulai Pembangunan Jalan Tol dan Underpass

Jalan tol dan underpass diharapkan dapat mengurai masalah kemacetan lalu lintas. (photo by: Ni Komang Erviani)
Ni Komang Erviani, Denpasar
Masalah kemacetan lalu lintas yang selama ini dihadapi wilayah Bali selatan, akan mulai diurai dengan pembangunan infrastruktur jalan baru berupa dari jalan tol di atas perairan yang menghubungkan Nusa Dua- Bandara Ngurah Rai-Benoa dan jalan underpass di simpang Dewa Ruci Kuta. Pembangunan dua infrastruktur jalan baru itu dicanangkan secara resmi oleh Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto dan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan, Rabu (21/12) di kawasan Pelabuhan Benoa, Denpasar. Kedua proyek tersebut ditargetkan rampung pada Mei 2013, sehingga dapat mendukung kegiatan APEC Meeting 2012 maupun Bali Summer Summit 2013.
Jalan tol Nusa Dua-Bandara Ngurah Rai-Benoa direncanakan dibangun di atas laut sepanjang 12 kilometer dengan biaya total Rp 2,49 triliun. Jalan tol Nusa Dua-Ngurah Rai-Benoa akan dibangun dengan sekitar 18.000 tiang pancang beton. “Ini akan jadi jalan tol yang terindah di Indonesia, dan menjadi ikon baru bagi Bali,” ujar Direktur PT. Jasa Marga Bali Tol, Akhmad Tito Karim.
Jalan yang menghubungkan Pelabuhan Benoa, Bandara Ngurah Rai,dan kawasan Nusa Dua itu dibangun dengan kerjasama pemerintah dengan badan usaha (public private partnership) oleh Konsorsium 7 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang terdiri dari PT Jasa Marga Tbk, PT Pelindo III, PT Angkasa Pura I, PT Pengembangan Pariwisata Bali, PT Wijaya Karya Tbk, PT Adhi Karya Tbk, dan PT Hutama Karya. Pemerintah Provinsi Bali dan Pemerintah Kabupaten Badung ikut menanam saham dalam proyek yang digarap di bawah bendera PT. Jasa Marga Bali Tol itu sebesar masing-masing Rp. 100 miliar. Selain untuk kendaraan roda empat, lajur khusus untuk sepeda motor juga akan tersedia pada jalan tol berbayar itu.
Dalam proses pembangunannya, jalan tol ini dipastikan akan menggunakan lahan hutan mangrove seluas 2 hektar dengan izin pemanfaatan lahan yang sudah dikantongi dari Kementerian Kehutanan. Sebagai kompensasi, PT. Jasa Marga (Persero (Tbk) member dukungan sekitar 300.000 pohon bakau untuk ditanam di sekitar tol.
Sementara itu, jalan underpass Simpang Dewa Ruci akan dibangun di kawasan simpang dewa ruci sepanjang 450 meter dengan biaya Rp 136 miliar yang diambilkan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pembangunan underpass diharapkan dapat memecah masalah kemacetan di Simpang Dewa Ruci yang merupakan akses utama dari dan menuju kawasan wisata Nusa Dua, Kuta, Sanur, dan kawasan lainnya. Berbeda dengan jalan tol Nusa Dua-Ngurah Rai-Benoa, jalan under pass ini tidak akan dikelola sebagai jalan tol, alias tidak berbayar.
“Ini akan menjadi jalan tol dan jalan under pass pertama di Bali,” tegas Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto.
Pembangunan jalan tol dan underpass, kata Djoko, merupakan bagian dari komitmen pemerintah yang tertuang dalam masterplan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi untuk koridor Bali Nusa Tenggara. “Pembangunan infrastruktur tersebut akan mendorong pertumbuhan ekonomi koridor Bali Nusa Tenggara yang bertumpu pada sektor pariwisata. Keberadaan proyek proyek tersebut nantinya akan memberikan andil yang signifikan dalam meningkatkan daya saing pariwisata melalui kemudahan aksesibilitas kawasan,” jelas Djoko.
Menteri BUMN Dahlan Iskan menyatakan apresiasinya atas cepatnya realisasi proyek tersebut. “Ini adalah proyek yang direncanakan dengan cepat, dipersiapkan dengan cepat, dan akan dikerjakan dengan sangat cepat. Jalan tol di Surabaya, panjangnya 12 km, dibangun selama 12 tahun. Kalau ini bisa selesai 12 bulan, alangkah mengejutkannya,” ujarnya sembari tertawa.
Dahlan juga mengharapkan pola kerjasama BUMN dan pemerintah daerah yang diterapkan di Bali, dapat dilaksanakan juga di daerah lainnya demi memperbaiki infrastruktur-infrastruktur di daerah. “Sebaiknya pola kerjasama seperti ini ditiru daerah lain. Misalnya di Sumatera, bagaimana bisa meniru Bali?” tegas dia.
Gubernur Bali Made Mangku Pastika menegaskan pembangunan jalan told an underpass sangat berarti bagi Bali. “Di samping memecahkan persoalan kemacetan, pembangunan jalan tol juga diharapkan akan memberikan multiplier effect terhadap percepatan pertumbuhan makro dan mikro ekonomi daerah Bali karena keberadaan jalan tol ini akan mempercepat mobilitas masyarakat ke sumber sumber ekonomi, termasuk mendorong mobilitas kegiatan pariwisata,” ujar Pastika.
Ditegaskan, pertumbuhan ekonomi Bali dalam beberapa tahun belakangan menunjukkan peningkatan, hingga mencapai sekitar 6 persen pada tahun 2011 ini. Namun pertumbuhan ekonomi ini tidak diikuti oleh peningkatan infrastruktur jalan yang memadai.
Arus jalan By Pass Ngurah Rai merupakan salah satu jalan strategis, namun mengalami kepadatan arus lalu lintas yang cukup tinggi. Catatan Pemerintah provinsi Bali, komposisi arus lalu lintas di sepanjang By Pass Ngurah Rai sampai ke Nusa Dua rata-rata didominasi oleh sepeda motor sebesar 66,1 persen, kendaraan ringan 31,4 persen, dan kendaraan berat 2,45 persen, dengan volume lalu lintas harian rata-rata 74.625 sepeda motor per hari. “Kondisi ini akan semakin parah ketika memasuki waktu waktu dengan tingkat kunjungan wisatawan yang tinggi seperti saat ini. Macetnya mulai lebih serius lagi,: ujar Pastika.
Pastika juga mengingatkan, Pemerintah Provinsi Bali dan Pemerintah Kabupaten Badung ikut dalam penyertaan modal pada pembangunan jalan tol. “Jadi dengan demikian jelas bahwa rakyat Bali ikut memiliki jalan tol yang akan kita bangun ini. Karena ikut memiliki, saya juga berharap betul betul supaya semuanya mendukung dan menjaga supaya pelaksanaan pembangunan ini berjalan dengan baik. Dan kalau sudah jadi, juga menjaga dan menggunakannya dengan sebaik baiknya,” harapnya.
22 December 2011 No Comments
Pemerintah Bali Memperluas Layanan Bus Sarbagita
Ni Komang Erviani, Denpasar
Operasional layanan transportasi publik bus Trans Sarbagita terus dikembangkan. Pada 2012 mendatang, sebanyak 10 unit bus berukuran sedang ditargetkan sudah bisa melayani koridor tengah kota Denpasar menuju kampus Universitas Udayana hingga Garuda Wisnu Kencana (GWK). “Kami masih menunggu datangnya 10 unit bus bantuan dari Pemerintah Pusat. Kalau bus sudah tiba di Bali, segera kami operasikan koridor tengah kota itu,” jelas Made Santha, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perhubungan Informasi dan Komunikasi Provinsi Bali, di Denpasar, Kamis (8/12).
Dijelaskan Santha, koridor tengah kota menuju GWK akan dilayani dengan bus full AC berukuran sedang dengan kapasitas hanya 25 tempat duduk dan 15 orang berdiri. “Karena ini jalurnya di tengah kota, maka kita gunakan bus yang berukuran lebih kecil dari sebelumnya,” jelas dia.
Sebelumnya, bus Trans Sarbagita yang sudah beroperasi sejak 18 Agustus 2011 lalu, hanya melayani koridor Terminal Batubulan – Nusa Dua dengan 15 unit bus berukuran besar, yakni 36 tempat duduk dan 20 penumpang berdiri.
Tarif yang ditetapkan bagi pengguna bus Trans Sarbagita pada koridor tengah Kota ini tetap sama dengan sebelumnya, yakni Rp 3.500 per orang untuk umum dan Rp 2.500 per orang untuk pelajar dan mahasiswa. Jam operasionalnya pun sama dengan koridor Batubulan-Nusa Dua, yakni mulai pukul 05.00 wita hingga pukul 21.00 wita.
Santha berharap dengan beroperasinya koridor tengah kota, maka dapat menjadi alternatif transportasi public yang aman dan nyaman bagi masyarakat. “Selama ini banyak sekali masyarakat yang menunggu kapan koridor tengah kota beroperasi. Semoga saja operasional koridor ini mendapat respon positif dari masyarakat,” jelas Santha.
Ni Putu Ayu Erni, salah seorang warga Denpasar, mengaku sangat menanti kehadiran bus Trans Sarbagita di jalur tengah kota. “Wah, asyik kalau ada Trans Sarbagita di jalur tengah kota. Apalagi melayani jalur kampus Unud dan GWK. Jadi ke mana-mana nggak perlu repot naik mobil atau motor,” ujar pegawai Bali Tourism Development Corporation (BTDC) yang sudah beberapa bulan ini menjadi pelanggan tetap Trans Sarbagita jalur Batubulan-Nusa Dua.
Sejak dioperasikan perdana pada 18 Agustus lalu, bus Trans Sarbagita kini mulai mendapat respon positif dari masyarakat. Kepala Bidang Teknik Pengelola Trans Sarbagita, Krisbiyanto,menjelaskan setiap harinya bus Trans Sarbagita melayani rata-rata 1.400 orang. “Lebih dari separuhnya merupakan penumpang tetap yang hampir setiap hari menggunakan layanan kami, terutama untuk menuju tempat kerja,” jelas Krisbiyanto. Selain masyarakat local, kata Krisbiyanto, bus Trans Sarbagita juga cukup diminati wisatawan asing yang tengah berlibur di Bali.
Trans Sarbagita ke depannya ditargetkan beroperasi dengan 17 koridor yang menghubungkan 4 kabupaten yakni Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan. Operasional bus Trans Sarbagita diharapkan dapat menjadi salah satu solusi masalah kemacetan lalu lintas yang semakin parah di Bali akibat banyaknya masyarakat yang menggunakan kendaraan pribadi.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan pertambahan jumlah kendaraan bermotor di Bali dalam lima tahun terakhir rata-rata mencapai 12,42% per tahun. Sedangkan pertambahan panjang jalan hanya 2,28% per tahun. Total jumlah kendaraan bermotor di Bali tahun 2009 tercatat 1,55 juta kendaraan, terdiri 71,81% sepeda motor, 19,39% mobil pribadi, 7,15% angkutan barang, dan hanya 0,88% angkutan umum. Bila ditotal, 91,2% kendaraan bermotor di Bali merupakan kendaraan pribadi.
Hasil survei Bank Dunia pada 2008 lalu merekomendasikan kepada Bali agar share angkutan umum mencapai 70% dari total pergerakan. Ironisnya, saat ini share angkutan umum hanya 0,88% dari total pergerakan. Kondisi ini sangat jauh dari ideal versi rekomendasi Bank Dunia.
9 December 2011 No Comments

english
indonesian