Posted by admin | Under Uncategorized
21:58 2 November 2011
Ni Komang Erviani, The Jakarta Post, Denpasar | Wed, 11/02/2011 7:01 AM
Security arrangements for visiting heads of state will affect commercial flights going in and out of Ngurah Rai International Airport during the upcoming ASEAN Summit, an Air Force officer said on Tuesday.
Flight service at Ngurah Rai would be adjusted to accommodate fifteen heads of state arriving in Bali on official or chartered flights.
“The delays will start 30 minutes before the arrival [of a head of state] until 25 minutes later, in line with international procedures, and will be applied to all heads of states,” Ngurah Rai Air Force base commander Col. Jumarto said.
Jumarto said it would be impossible to halt all activity during the officials’ arrivals at Ngurah Rai International Airport, the only commercial airport on Bali.
Security would be increased for visiting heads of state at the airport, he added, with officials creating three protective rings.
The first ring is a top security area that will be strictly off-limits to the public. The VIP 1 and VIP 2 reception facilities, which lie north of the airport’s international terminal, are expected to be the locus of the second ring.
The public areas inside the airport, including the arrival and departure terminals, will be designated as the third ring.
Official aircraft will park at three separate facilities inside the airport. Not all the planes will be parked at Ngurah Rai airport, which can only accommodate six wide-body aircraft. Some would be parked at Halim Perdanakusuma Airport in Jakarta and Juanda International Airport in Surabaya, East Java, Jumarto said.
Fifteen countries have confirmed the attendance of their heads of state, while three other countries were expected to be represented by their foreign ministers.
Of the 18 countries participating in the summit, only Singapore’s and Cambodia’s delegates will arrive in Bali on commercial planes, while the others will arrive on official or chartered planes.
US President Barack Obama has also confirmed attendance at the summit and is expected to arrive in Indonesia on Nov. 16 for preliminary meetings on trade.
“We have no confirmation on how long he will be in Bali,” Jumarto said.
Bali Police chief Insp. Gen. Totoy Herawan Indra said the police were prepared to safeguard the ASEAN meeting.
“We also expect the public to support us to maintain a secure situation in Bali,” he said.
Bali Governor Made Mangku Pastika said that Bali was ready to welcome all the delegates and to host the summit.
“The meeting will give Bali greater attention from the national and international community. We are delighted to host this meeting because it will make Bali more popular.”
http://m.thejakartapost.com news/2011/11/02/expect-delays-ngurah-rai-during-summit.html
Posted by admin | Under balinese, pariwisata, seni dan budaya, spiritual
5:45 12 May 2011

Oleh: Ni Komang Erviani
Para pelaku pariwisata diimbau untuk tidak lagi menggunakan simbol-simbol keagamaan maupun benda-benda yang disakralkan hanya semata untuk daya tarik wisata. Pasalnya, Pemerintah Provinsi Bali
saat ini tengah merancang peraturan daerah tentang kepariwisataan budaya Bali yang salah satunya mengatur penggunaan simbol-simbol keagamaan. Dalam rancangan perda tersebut, setiap orang yang
menggunakan simbol-simbol keagamaan maupun benda-benda yang disakralkan hanya semata untuk daya tarik wisata akan diancam penjara.
Lama hukuman penjara yang bisa dikenakan terhadap pelanggaran Perda tersebut mencapai maksimal 6 bulan. Ancaman hukuman lain adalah denda dengan nilai maksimal Rp 50 juta. Selain itu, Perda juga mengatur larangan memanfaatkan upacara keagamaan semata untuk kepentingan
pariwisata.
Read the rest of this entry »
Posted by admin | Under peristiwa
17:04 10 May 2011

Joko Santoso (41 tahun), mekanik PT. Merpati Nusantara Airlines yang ikut menjadi korban dalam kecelakaan pesawat Merpati di Perairan Kaimana Papua Barat pada Sabtu (7/5), dimakamkan secara islam di Kuburan Bugis di Jalan Pendidikan, Suwung, Denpasar, Selasa (10/5) siang. Ikut mengiringi pemakaman korban Joko, yakni keluarga besarnya, kerabat, beserta beberapa rekan kerja korban dari PT. Merpati Nusantara Airlines.
Sebelum dimakamkan, jenazah almarhum yang merupakan anak kedua dari 7 bersaudara sempat disholatkan terlebih dahulu di Masjid Darul Huda, Jalan Letda Made Putra, Denpasar. Istri korban, Siti Muawana yang didampingi dua anak almarhum, tampak syok kehilangan suaminya. Siti terlihat terus menangis selama proses pemakaman.
Almarhum Joko sudah bekerja sebagai mekanik di PT. Merpati Nusantara Airlines selama 21 tahun. Pria asal Blitar itu, selama ini menetap di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Pemakaman dilakukan di Bali karena ada banyak kerabatnya yang kini menetap di Bali. Jenazah almarhum diterima keluarga di Bali pada Senin (9/5) malam.
Priharyono, General Manager Enginering Merpati Airlines Cabang Surabaya, sempat menyatakan rasa duka citanya kepada keluarga korban saat jenazah hendak disholatkan. “Kita semua berduka. Saudara kita telah gugur dalam menjalankan tugas,” ujarnya.
Priharyono juga mengajak semua kerabat almarhum untuk memberi semangat kepada keluarganya agar tabah dan ikhlas. “Mari kita beri semangat ke keluarga supaya tetap diberi ketabahan, keimanan, serta keikhlasan,”tambah Priharyono.
Pesawat Merpati Nusantara Airlines jenis MA-60 jatuh di perairan Kaimana, Papua Barat, sekitar 500 meter dari Bandara Utarom, Sabtu (7/5) siang. Pesawat naas itu membawa 21 penumpang dan 6 awak pesawat. Hingga Selasa (10/5) pagi, sebanyak 25 jenazah korban sudah ditemukan tim SAR di sekitar perairaan Kaimana. Dua jenazah awal pesawat, terdiri dari pilot dan co pilot masih dalam pencarian.(Ni Komang Erviani)
Posted by admin | Under balinese, hukum dan kriminal, seni dan budaya, spiritual
7:02 9 May 2011

Oleh:Ni Komang Erviani
Ada yang berbeda di Markas Brimob Polda Bali, Tohpati, Denpasar, Sabtu (7/5) pagi. Sejumlah anggota brimob yang beragama Hindu, bersama keluarganya, menggunakan pakaian adat Bali melakukan persembahyangan di Pura Padma Bhuana, pura yang terletak di areal Markas Brimob.
Namun berbeda dengan persembahyangan biasa, hari itu ribuan senjata operasional brimob ikut diupacarai. Jenisnya beragam, mulai dari pistol, senjata laras panjang, hingga senapan serbu jenis MK4 yang hanya digunakan untuk kegiatan pertahanan dalam peperangan.
Sejumlah kendaraan operasional seperti sepeda motor sampai mobil, diparkir di areal pura untuk ikut diupacarai. Diantaranya terlihat kendaraan watercanon, kendaraan lapis baja barakuda, kendaraan gegana penjinak bom, dan sejumlah kendaraan operasional lainnya. Anyaman
janur tampak menghias kendaraan-kendaraan tersebut.
Persembahyangan hari itu memang spesial, dalam rangka merayakan Hari Tumpek Landep. “Semua senjata yang digunakan kesatuan kami, diupacarai setiap Tumpek Landep. Ini merupakan tradisi khas yang hanya dilakukan kesatuan kami di Bali, untuk menghormati tradisi Umat Hindu di sini.
Segala yang dilakukan untuk kebaikan, tentu kami dukung,” tegas Kepala Satuan Brimob Polda Bali, Komisaris Besar Heni Sulistiya.
Tumpek Landep dirayakan Umat Hindu setiap hari saniscara kliwon wuku landep, atau setiap 210 hari sekali. Tumpek Landep merupakan hari raya pemujaan kepada Sang Hyang Siwa Pasupati sebagai dewanya taksu.
Pada masa lalu, dan masih dilakukan sampai sekarang, Tumpek Landep dipercaya sebagai hari yang baik untuk melakukan pembersihan dan penyucian berbagai pusaka leluhur seperti keris, tombak, dan berbagai benda lain dari besi. Itu sebabnya Tumpek Landep lebih akrab disebut sebagai otonan besi. Namun dalam perkembangannya, umat Hindu di Bali banyak melakukan upacara terhadap motor, mobil, maupun perkakas rumah tangga dan peralatan kerja yang terbuat dari besi.
Pemangku Pura Padma Bhuana, Jero Mangku Made Sukarma, menilai upacara terhadap berbagai peralatan dari besi sah-sah saja dilakukan.”Di balik semua upacara itu, inti Tumpek Landep adalah supaya kita diberi berkah ketajaman pikiran dan ketangguhan kita dalam memperjuangkan hal yang
benar,” jelasnya.
Upacara terhadap senjata kepolisian dan segala bentuk sarana prasarana penunjangnya, menurut Jero Mangku Sukarma, merupakan simbol bahwa semua senjata dan peralatan itu harus digunakan dengan benar. “Semua senjata itu harus digunakan dengan terkendali, agar tidak ngawur
penggunaannya dan benar-benar sesuai dengan manfaatnya,” ujarnya. \
Upacara tersebut juga dilakukan sebagai bentuk syukur manusia terhadap segala kemudahan yang diberikan melalui berbagai peralatan tersebut. “Intinya, kita hidup harus bersyukur. Supaya kita juga diberikan keselamatan oleh Tuhan untuk penggunaan segala peralatan itu,”tambah
dia.
Hari Raya Tumpek Landep masih satu rangkaian dengan Hari Raya Saraswati yang merupakan hari perayaan turunnya ilmu pengetahuan. Tepat di Hari Tumpek Landep, segala ilmu pengetahuan yang diturunkan pada Hari Saraswati dimohonkan agar lebih bertuah. Pada Hari Tumpek Landep, umat Hindu memohon agar diberikan ketajaman pikiran dan hati.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali I Gusti Ngurah Sudiana menjelaskan Tumpek Landep merupakan hari pemujaan terhadap Sang Hyang Pasupati yang dalam realitasnya distanakan pada senjata. Karena distanakan pada senjata, maka senjata itu diberikan upacara untuk membuatnya lebih bertuah.
Pada zaman dulu, kata Sudiana, upacara Tumpek Landep secara besar-besaran banyak dilakukan di tempat-tempat penyimpanan dan pembuatan senjata yang ketika itu berupa keris, tombak, atau pedang. Dalam perkembangannya, memang upacara juga dilakukan terhadap semua
senjata dari besi, baik senjata dalam arti sesungguhnya untuk berperang maupun senjata untuk kehidupan sehari-hari seperti perabot tukang, perabot pertanian atau perabotan untuk industri. Bahkan masyarakat juga mengupacarai komputer, mobil, laptop, dan lainnya yang dianggap sebagai peralatan yang membantu melaksanakan tugas sehari-hari.
“Hal ini dibenarkan menurut agama, karena benda-benda itu juga bisa dibilang senjata. Mobil adalah senjata angkutan, komputer merupakan senjata untuk komunikasi. Pokoknya untuk memudahakan kehidupan sehari-hari,” ujar Sudiana.
Dijelaskan, tumpek landep sebenarnya memiliki makna filosofi “landepin idep” atau mempertajam pikiran. “Senjata yang paling utama dari manusia adalah pikiran. Jadi tumpek landep bermakna, saatnya mempertajam pikiran dan pengetahuan. Karena pikiran tanpa tanpa
pengetahuan tidak berarti apa-apa,” tegasnya. Tumpek landep, tambahnya, merupakan saatnya manusia mengucap rasa syukur atas diberikannya alat-alat berupa senjata-senjata untuk mempermudah kehidupan.
Posted by admin | Under hukum dan kriminal
10:08 9 November 2009

Oleh: Ni Komang Erviani
Kepolisian Daerah (Polda) Bali memperketat pengamanan di kawasan-kawasan wisata melalui Operasi Wisata Agung 2009 mulai Sabtu (7/11) lalu. Operasi khusus melibatkan sebanyak 898 orang personil kepolisian dari Polda Bali dan akan berlangsung selama 10 hari hingga 16 November mendatang.
“Operasi ini untuk mencegah terjadinya tindak pidana terhadap wisatawan lokal maupun mancanegara sehingga wisatawan merasa aman dan nyaman selama berada di Pulau Bali,” tegas Kepala Bidang Humas Polda Bali Komisaris Besar Gde Sugianyar Dwiputra pada Sabtu (7/11).
Operasi Wisata Agung akan difokuskan untuk pengamanan di beberapa kawasan wisata seperti Kuta, Sanur, Nusa Dua, Lovina, Tanah Lot, Rambut Siwi, Ubud, Kintamani, Candi Dasa, Goa Lawah, dan Taman Ayun. Target pengamanan terutama hotel-hotel, vila, penginapan, café, bar, diskotik, money changer, dan restoran.
“Sasarannya adalah orang, benda dan tempat di mana wisatawan berada, pedagang souvenir yang memaksa pembeli, penjahat kambuhan, preman, pengemis, dan pengamen” tambah Sugianyar.
Pelaksanaan Operasi Wisata Agung tidak terlepas dari meningkatnya kasus kriminalitas dengan korban wisatawan asing berupa perampokan dan pemerkosaan. Pada akhir September lalu misalnya, seorang wisatawan asal Jepang ditemukan tewas di Kuta. Pada akhir Oktober, seorang wisatawan asal Swedia juga menjadi korban pemerkosaan di kawasan Kuta Selatan. Beberapa kasus pencurian dengan modus coblos ban juga sempat dialami wisatawan di kawasan wisata Sanur.
“Kami tidak ingin kejadian-kejadian seperti itu terulang kembali,” tegasnya.
Sebagai salah satu upaya memberi rasa aman kepada masyarakat, Polda Bali juga mengerahkan pasukan Brimob di titik-titik strategis. “Pengerahan Brimob kami lakukan untuk memberi rasa aman kepada masyarakat, di tengah meningkatnya angka kejahatan di Bali belakangan ini,” tegasnya.
Sebelumnya pada Oktober lalu, Polda Bali telah menggelar operasi khusus untuk menyasar pelaku pencurian dengan menggelar operasi pencurian dengan pemberatan dan pencurian dengan kekerasan (operasi curat curas) agung 2009. “Operasi tersebut ternyata cukup berhasil menekan kejahatan curat dan curas. Maka kami lanjutkan dengan operasi wisata agung ini,” ujar Sugianyar.
Posted by admin | Under komunitas
9:46 9 November 2009

Oleh: Ni Komang Erviani
Sebuah konser amal untuk para korban gempa Padang Sumatera Barat akan digelar di Sector Bar, Sanur, pada Selasa (10/11). Konser amal tersebut digelar atas kerjasama sejumlah komunitas di Bali seperti Persatuan Artis Penata Musik dan Pencipta Lagu Bali (Pramusti), Ikatan Masyarakat Minang Saiyo, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Denpasar, Bali Jazz Community, Four Children, dan lainnya.
Sekitar 80 musisi, penari dan siswa SMP dan SMA se-Denpasar akan mengisi rangkaian acara konser bertajuk Mind Concert tersebut. Diantaranya musisi Bali Agung Wirasuta, Triple X, The Zio, Gde Kurniawan, dan lainnya. Akan tampil pula pianis Ananda Ruslan yang akan menyumbangkan sebuah lagu dengan pemain biola cilik Natya. “Banyak sekali musisi dan seniman yang mau bergabung secara sukarela,” ujar Ketua Panitia Rofiqi Hasan.
Panitia telah menyebarkan sebanyak 500 tiket donasi seharga Rp. 50.000 per tiket. Dari penjualan tiket tersebut, sebesar Rp. 40.000 akan disumbangkan untuk korban gempa Padang. “Ini adalah upaya kami untuk membantu korban gempa padang. Hasil konser amal akan kami sumbangkan melalui Ikatan Masyarakat Minang Saiyo,” jelas Rofiqi.
Ditambahkan, konser amal ini diharapkan dapat mengulang kesuksesan konser amal untuk Gempa Yogyakarta yang pernah diselenggarakan komunitas yang sama pada dua tahun lalu. Pada saat itu, dana yang terkumpul sebesar Rp. 35 juta dan telah disumbangkan ke masyarakat korban gempa Jogja berupa bahan bangunan.
Posted by admin | Under hukum dan kriminal
9:36 9 November 2009

Polda Bali Gagalkan Pengiriman 5.000 Ekstasi
Oleh: Ni Komang Erviani
Kepolisian Daerah (Polda) Bali berhasil menggagalkan pengiriman 5.000 butir ekstasi dari Jakarta ke Denpasar. “Dengan asumi harga pasarannya dua ratus ribu rupiah per butir, nilai totalnya kami perkirakan mencapai satu miliar rupiah,” jelas Kepala Bidang Humas Polda Bali Komisaris Besar Gde Sugianyar Dwiputra kepada wartawan di Markas Polda Bali pada Jumat (6/11).
Ekstasi berwarna krem tersebut dikirim dari Jakarta ke Bali melalui jasa pengiriman paket kilat TIKI pada tanggal 24 September lalu. Paket tersebut dikemas dalam beberapa kardus biscuit dan dimasukkan dalam kardus dengan beberapa bungkus biscuit. “Mungkin diisi biskuit di bagian paling atas untuk mengelabui petugas,” jelas Sugianyar.
Paket itu tiba di Bandara Ngurah Rai Bali pada 29 September 2009. Pada proses pengecekan menggunakan X-Ray, polisi mencurigai ada barang mencurigakan yang diduga ekstasi di dalam kardus. “Setelah kami cek di laboratrium, isinya ternyata memang benar ekstasi, Jumlahnya mencapai 5.000 butir,” tambah Kepala Bagian Analis Direktorat Narkoba Polda Bali Ajun Komisaris Besar Ni Made Asmiriwati.
Meski berhasil menggagalkan pengiriman tersebut, namun aparat tidak berhasil melacak pemilik paket ekstasi itu. Pasalnya, pelaku menggunakan nama dan alamat fiktif dalam proses pengirimannya. Dalam boks paket tertera pengirim bernama Rahmat yang beralamat di Jalan Pulau Asem III No. 56 Jakarta Timur. Sedangnya tujuan pengiriman kepada seseorang bernama Agung Antara yang beralamat di Jalan Nuri No. 24, Desa Dauh Peken, Tabanan Bali.
“Setelah kami lacak ke alamat pengirim ataupun tujuan pengiriman, ternyata tidak ada nama yang dimaksud. Kami menduga nama dan alamat yang digunakan palsu,” ujar Asmiriawati. Nomor telepon yang tercantum dalam paket juga diketahui palsu sehingga polisi kesulitan melakukan pelacakan.
“Hingga ini pelakunya belum berhasil kami tangkap. Kami menduga pelakunya sudah tahu kalau paketnya sudah ditangan polisi, karena sampai sekarang tidak ada yang melaporkan ke jasa pengiriman kalau paketnya belum terkirim,” tegas Asmiriawati.
Posted by admin | Under hukum dan kriminal
10:15 4 November 2009

Oleh: Ni Komang Erviani
Dukungan terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) datang dari berbagai kalangan di Bali. Mulai dari mahasiswa, tokoh agama, seniman, aktivis lingkungan, aktivis pers, anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI dari Bali, hingga politikus.
Para mahasiswa menyampaikan dukungannya dengan menggelar aksi unjuk rasa di markas Kepolisian Daerah (Polda) Bali, Selasa (3/11). Aksi unjukrasa dilakukan puluhan mahasiswa dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Udayana dengan menggelar aksi teatrikal yang menggambarkan seorang bertelanjang dada dengan tulisan KPK ditendang-tendang oleh seorang yang mewakili polisi.
Selain itu, para mahasiswa juga melepaskan tujuh ekor tikus kecil, tepat di depan gerbang Polda Bali. “Ini sebagai bentuk dukungan kami kepada KPK. Kriminalisasi KPK telah membuat para tikus-tikus koruptor bebas begitu saja,” tegas Presiden BEM Universitas Udayana, Agus Lenyot.
Dalam aksinya para mahasiswa juga membawa spanduk putih bertuliskan “Dukungan untuk KPK” yang berisi ratusan tanda ratusan mahasiswa Universitas Udayana. Dalam pernyataan sikapnya, BEM meminta Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono untuk mendukung secara penuh KPK untuk membongkar century sebagai agenda mendesak 100 hari pemerintah.
Di tempat terpisah, sejumlah tokoh agama, tokoh pers, seniman, politikus, aktivis lingkungan, dan lainnya sepakat membuat pernyataan sikap bersama untuk menyatakan keprihatinan terhadap penegakan hukum di Indonesia.
Dalam pernyataan sikap yang dibuat di kantor Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali itu, mereka menuntut pembebasan terhadap komisioner KPK non aktif, Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah. Mereka juga menyatakan mendukung pembentukan tim independen untuk menangani kemelut dalam penetapan kedua tersangka, sepanjang untuk mengysut siapapun yang diduga menyalahgunakan wewenang dan kekuasaan terkait masalah itu.
Pernyataan sikap tertulis itu selanjutnya akan disampaikan kepada beberapa instansi yakni Pimpinan DPD RI dari Provinsi Bali, DPRD Bali, DPRD Kabupaten/kota se-Bali, dan lembaga-lembaga terkait lainnya.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali Ngurah Sudiana menegaskan KPK harus dijaga. “Dukungan kepada KPK ini tetap harus dijaga. Korupsi hanya akan menghancurkan negara,” tegasnya.
Seniman Wayan Dibia juga menyatakan dukungannya. Menurut dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar itu, perseteruan KPK dan Polri seperti menyaksikan pertunjukkan bondres (pertunjukkan lawak tradisional Bali). “Kondisi ini mengkhawatirkan kita. seperti ada permainan-permainan terselubung,” tegas Dibia.
Pertemuan juga diikuti Rektor Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Made Titib, Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI dari Bali Wayan Sudirta, Ketua Bali Corruption Watch Putu Wirata Dwikora, dan pemimpin redaksi sejumlah media lokal di Bali.
Posted by admin | Under balinese, seni dan budaya
2:26 12 September 2009
Posted by admin | Under seni dan budaya
23:34 8 August 2009

"Bintang Tiga", foto karya Zul T Edoardo yang memperlihatkan nelayan pendukung Jusuf Kalla-Wiranto di depan sebuah mobil Mercy yang dinaiki Jusuf Kalla saat berkunjung ke Pasar Ikan Kedonganan Badung. Dua kondisi ekstrem berbeda yang menunjukkan adanya realitas kesenjangan ekonomi dan sosial di masyarakat kita saat ini.
Oleh: Ni Komang Erviani
Pemungutan suara pemilu legislatif telah usai 8 April lalu. Begitu juga pemungutan suara Pemilu presiden dan wakil presiden telah berjalan lancar pada 9 Juli lalu. Namun nuansa pesta demokrasi justru baru terasa di ruang pamer Museum Bali di Jalan Mayor Wisnu Denpasar sejak Senin (3/8) hingga Minggu (9/8).
Sebanyak 55 karya foto terpajang apik di ruang pamer berukuran sekitar 18 x 8 meter persegi itu. Foto-foto yang ditampilkan beragam, tetapi tetap dengan satu tema yang sama yakni pesta demokrasi. Semuanya adalah karya dari 17 orang fotografer Bali yang tergabung dalam Komunitas Pewarta Foto Bali. Read the rest of this entry »
Komentar Pembaca