Oleh: Ni Komang Erviani
Kepolisian Daerah (Polda) Bali memperketat pengamanan di kawasan-kawasan wisata melalui Operasi Wisata Agung 2009 mulai Sabtu (7/11) lalu. Operasi khusus melibatkan sebanyak 898 orang personil kepolisian dari Polda Bali dan akan berlangsung selama 10 hari hingga 16 November mendatang.
“Operasi ini untuk mencegah terjadinya tindak pidana terhadap wisatawan lokal maupun mancanegara sehingga wisatawan merasa aman dan nyaman selama berada di Pulau Bali,” tegas Kepala Bidang Humas Polda Bali Komisaris Besar Gde Sugianyar Dwiputra pada Sabtu (7/11).
Operasi Wisata Agung akan difokuskan untuk pengamanan di beberapa kawasan wisata seperti Kuta, Sanur, Nusa Dua, Lovina, Tanah Lot, Rambut Siwi, Ubud, Kintamani, Candi Dasa, Goa Lawah, dan Taman Ayun. Target pengamanan terutama hotel-hotel, vila, penginapan, café, bar, diskotik, money changer, dan restoran.
“Sasarannya adalah orang, benda dan tempat di mana wisatawan berada, pedagang souvenir yang memaksa pembeli, penjahat kambuhan, preman, pengemis, dan pengamen” tambah Sugianyar.
Pelaksanaan Operasi Wisata Agung tidak terlepas dari meningkatnya kasus kriminalitas dengan korban wisatawan asing berupa perampokan dan pemerkosaan. Pada akhir September lalu misalnya, seorang wisatawan asal Jepang ditemukan tewas di Kuta. Pada akhir Oktober, seorang wisatawan asal Swedia juga menjadi korban pemerkosaan di kawasan Kuta Selatan. Beberapa kasus pencurian dengan modus coblos ban juga sempat dialami wisatawan di kawasan wisata Sanur.
“Kami tidak ingin kejadian-kejadian seperti itu terulang kembali,” tegasnya.
Sebagai salah satu upaya memberi rasa aman kepada masyarakat, Polda Bali juga mengerahkan pasukan Brimob di titik-titik strategis. “Pengerahan Brimob kami lakukan untuk memberi rasa aman kepada masyarakat, di tengah meningkatnya angka kejahatan di Bali belakangan ini,” tegasnya.
Sebelumnya pada Oktober lalu, Polda Bali telah menggelar operasi khusus untuk menyasar pelaku pencurian dengan menggelar operasi pencurian dengan pemberatan dan pencurian dengan kekerasan (operasi curat curas) agung 2009. “Operasi tersebut ternyata cukup berhasil menekan kejahatan curat dan curas. Maka kami lanjutkan dengan operasi wisata agung ini,” ujar Sugianyar.
Polda Bali Gagalkan Pengiriman 5.000 Ekstasi
Oleh: Ni Komang Erviani
Kepolisian Daerah (Polda) Bali berhasil menggagalkan pengiriman 5.000 butir ekstasi dari Jakarta ke Denpasar. “Dengan asumi harga pasarannya dua ratus ribu rupiah per butir, nilai totalnya kami perkirakan mencapai satu miliar rupiah,” jelas Kepala Bidang Humas Polda Bali Komisaris Besar Gde Sugianyar Dwiputra kepada wartawan di Markas Polda Bali pada Jumat (6/11).
Ekstasi berwarna krem tersebut dikirim dari Jakarta ke Bali melalui jasa pengiriman paket kilat TIKI pada tanggal 24 September lalu. Paket tersebut dikemas dalam beberapa kardus biscuit dan dimasukkan dalam kardus dengan beberapa bungkus biscuit. “Mungkin diisi biskuit di bagian paling atas untuk mengelabui petugas,” jelas Sugianyar.
Paket itu tiba di Bandara Ngurah Rai Bali pada 29 September 2009. Pada proses pengecekan menggunakan X-Ray, polisi mencurigai ada barang mencurigakan yang diduga ekstasi di dalam kardus. “Setelah kami cek di laboratrium, isinya ternyata memang benar ekstasi, Jumlahnya mencapai 5.000 butir,” tambah Kepala Bagian Analis Direktorat Narkoba Polda Bali Ajun Komisaris Besar Ni Made Asmiriwati.
Meski berhasil menggagalkan pengiriman tersebut, namun aparat tidak berhasil melacak pemilik paket ekstasi itu. Pasalnya, pelaku menggunakan nama dan alamat fiktif dalam proses pengirimannya. Dalam boks paket tertera pengirim bernama Rahmat yang beralamat di Jalan Pulau Asem III No. 56 Jakarta Timur. Sedangnya tujuan pengiriman kepada seseorang bernama Agung Antara yang beralamat di Jalan Nuri No. 24, Desa Dauh Peken, Tabanan Bali.
“Setelah kami lacak ke alamat pengirim ataupun tujuan pengiriman, ternyata tidak ada nama yang dimaksud. Kami menduga nama dan alamat yang digunakan palsu,” ujar Asmiriawati. Nomor telepon yang tercantum dalam paket juga diketahui palsu sehingga polisi kesulitan melakukan pelacakan.
“Hingga ini pelakunya belum berhasil kami tangkap. Kami menduga pelakunya sudah tahu kalau paketnya sudah ditangan polisi, karena sampai sekarang tidak ada yang melaporkan ke jasa pengiriman kalau paketnya belum terkirim,” tegas Asmiriawati.
Oleh: Ni Komang Erviani
Kepolisian Daerah Bali berganti kepemimpinan dari Kapolda lama Irjen Pol Teuku. Ashikin Husein kepada Irjen Pol Sutisna. Paska pelantikan dan serah terima jabatan di Mabes Polri Jakarta pekan lalu, Senin (3/8) dilakukan acara pisah sambut dengan kapolda lama dan kapolda baru di Mapolda Bali.Acara pisah sambut dihadiri Wakil Gubernur Bali AA Puspa Yoga, Ketua DPRD Bali IB Wesnawa, Pangdam IX Udayana Mayor Jendral TNI Hotmangaradja Pandjaitan, dan sejumlah petinggi Polda Bali.
Dalam acara pisah sambut tersebut, Kapolda baru Sutisna berjanji akan berupaya seoptimal mungkin untuk menjaga keamanan Bali, terutama dari ancaman terorisme. “Pulau Bali masih potensial menjadi ancaman terbesar kelompok teroris. Masalah keamanan Bali merupakan item yang sangat penting. Cacatnya item ini jelas akan berdampak luas tidak saja bagi Pulau Dewata, namun juga Indonesia,” tegas pria yang sebelumnya menjabat Staf Ahli Kapolri. Read the rest of this entry »
Komentar Pembaca