Seorang nelayan tiba tiba mendekati I Gede Merta Yoga Pratama, 27 tahun, menarik kerah bajunya, sambil berteriak marah marah. Pria tersebut tampak emosional saat Gede bersama timnya mencoba menawarkan sebuah aplikasi pelacak ikan yang diciptakannya sendiri.
“Dikira mau nipu. Kan waktu itu sudah banyak penipuan online gitu,” kata Gede, mengenang peristiwa beberapa tahun lalu di sebuah pantai di Bali.
Penolakan demi penolakan terus datang pada Gede. Padahal, niatnya hanya ingin mempermudah kerja para nelayan sekaligus meningkatkan kesejahteraan mereka.
Namun penolakan penolakan itu tak membuat Gede putus asa. Ia terus berusaha mewujudkan mimpinya.

Upayanya berbuah manis. Sebuah aplikasi bernama Fish Go yang kini menjadi panduan para nelayan di Bali menebar jala. Fish Go, sebuah aplikasi pelacak ikan yang diciptakan Gede, kini diakses oleh ribuan nelayan di Bali setiap harinya. Tak hanya mempermudah nelayan dalam melaut, aplikasi tersebut juga memperpendek waktu melaut serta mengurangi biaya bahan bakar.
Dengan aplikasi Fish Go yang menggunakan teknologi remote sensing, para nelayan hanya perlu satu kali menebar jala. Pasalnya, aplikasi tersebut membantu nelayan mendeteksi di mana kebaradaan ikan terdekat, sebelum berangkat melaut.
Sebelum menggunakan aplikasi, para nelayan biasanya menebar jala tiga kali dalam sekali perjalanan, itu pun dengan menempuh jarak yang lumayan jauh. Tingkat keberhasilannya mencapai 87 persen.
“Dulunya mereka bisa melaut 18 jam, berangkat sore dan balik keesokan harinya. Sekarang, karena mereka sudah punya target tertentu sebelum berangkat, mereka biasanya hanya menghabiskan waktu 6 jam di laut. Berangkat sore, malam harinya sudah kembali bawa ikan,” ujar Gede.
Berkat keberhasilannya itu, Gede dianugerahi Apresiasi Satu Indonesia Awards 2020 di bidang teknologi. Satu Indonesia Awards merupakan apresiasi yang diberikan PT. Astra International Tbk. bagi anak bangsa yang telah berkontribusi untuk mendukung terciptanya kehidupan berkelanjutan melalui berbagai bidang, diantaranya bidang kesehatan, pendidikan, lingkungan, kewirausahaan dan teknologi.

Aplikasi itu pula yang telah memberinya kesempatan mendapatkan beasiswa untuk menempuh pendidikan paska sarjana di Institut Teknologi Bandung (ITB).
Terlahir dari keluarga petani di Desa Gobleg Buleleng, kawasan dataran tinggi di wilayah Bali Utara, Gede kini justru memilih mengabdikan dirinya kepada para nelayan di pesisir Bali. Gede tak menyebut alasan khusus ia memilih berkuliah di jurusan Kelautan Universitas Udayana. Namun berawal dari situlah, nuraninya tergerak untuk mencipta sesuatu bagi para nelayan.
Saat itu, ia memiliki beberapa teman kuliah yang merupakan anak nelayan. Sebagian besar dari mereka berkuliah dengan beasiswa bidik misi. Dari mereka, Gede menemukan fakta betapa sulitnya para nelayan mencari ikan.
Salah seorang temannya, seorang anak nelayan, sempat menangis di hadapannya tentang bagaimana sulitnya kehidupan petani. Sang ayah pernah hilang di laut, lost contact. Belum lagi, hasil melaut yang seringkali tidak seberapa.
Tak sedikit nelayan yang ternyata terjerat hutang kepada tengkulak, akibat hasil melaut yang minim kerap tak sepadan dengan biaya pengeluaran sehari hari keluarga mereka.
“Kalau nggak dapat ikan, mereka nggak bisa makan. Jadi terpaksa pinjam uang ke tengkulak. Nanti ketika dapat ikan, ikannya dipakai untuk bayar tengkulak. Begitu terus. Jadi kayak lingkaran setan,” ujarnya.
Cerita sang teman rupanya bukan isapan jempol belaka. Saat melakukan penelitian untuk tugas kampus bersama teman temannya, Gede menemukan fakta yang serupa.
“Bukan lautan hanya kolam susu, jaring dan jala cukup menghidupimu”. Cuplikan lirik lagu yang sangat popular di kalangan masyarakat Indonesia itu, ternyata tak sesuai dengan fakta di lapangan.
“Ternyata lagu itu nggak sesuai. Nelaya kita hidupnya berat banget, karena kadang mereka harus melaut berhari hari dan melaut jauh banget untuk dapat ikan. Dan ironisnya, hasilnya nggak seberapa. Pantas saja banyak sekali anak nelayan yang sudah nggak mau lagi jadi nelayan,” keluhnya.

Aplikasi Fish Go dirintis sejak tahun 2017. Semula, Fish Go hanya didesain sebagai sebuah website. Namun saat hendak melakukan uji coba, Gede menyadari bahwa website tidak efektif buat para nelayan. Karenanya, dibuatlah aplikasi yang kemudian dinamai Fish Go, terinspirasi dari game Pokemon Go yang sedang trending saat itu.
“Awalnya mau dikasi nama Mata Elang, tapi kok kayak serem banget. Kebetulan saat itu lagi ngetrend game Pokemon Go, di mana kita cari keberadaan Pikachu. Nah, akhirnya saya namani Fish Go, tapi yang kita cari ikan, bukan Pikachu,” kenangnya.
Banyaknya penolakan dari para nelayan saat melakukan uji coba, membuat Gede harus memutar otak. Ia menyadari kalau pendekatan yang dilakukannya salah.
“Bagaimana mereka mau pakai aplikasi ini, kalau nggak terbukti. Ya kan? Jadi saya nggak bisa paksa mereka nyoba pakai aplikasi tanpa kasi kompensasi,” kata Gede.
Gede akhirnya melakukan pendekatan ulang ke para nelayan, dan menjanjikan kompensasi uang bagi nelayan yang gagal mendapatkan ikan saat menggunakan aplikasi Fish Go.
“Saya kayak bakar bakar duit waktu itu. Uji coba ke nelayan, kalau gagal ya saya harus bayar mereka Rp 300 ribu sekali jalan,” kata Gede.
Semula, Gede menggunakan dana Rp 10 juta yang didapat sebagai pemenang Badung Festival Inovasi pada tahun 2017 untuk memodali penelitiannya itu, termasuk sebagai kompensasi buat nelayan. Tak berhenti di situ, ia bahkan menggunakan dana beasiswa yang didapatnya dari kampus.
“Ya, termasuk duit beasiswa, terpakai juga waktu itu. Pokoknya saya nggak mau menyerah saat itu, saya yakin sekali aplikasi ini suatu saat akan berhasil,” ujar Gede.
Beruntung, kini aplikasi Fish Go yang diciptakannya disupport penuh oleh Pemerintah Kabupaten Badung. Operasionalnya sepenuhnya dibiayai oleh dana insentif daerah yang disalurkan melalui Pemerintah Kabupaten Badung.
Berawal dari penolakan demi penolakan, kini Gede kerap dibuat tersentuh oleh para nelayan yang mengabarinya dengan kabar kabar baik. Banyak nelayan yang tiba tiba mengirimi foto hasil tangkapan mereka yang melimpah.
“Rasanya kayak, nggak nyangka aja aplikasi ini sebegitu membantu bagi mereka. Setidaknya, mereka sekarang jadi makin semangat untuk melaut,” kata dia.
Satu hal yang masih menjadi kekhawatiran Gede, yakni kepunahan profesi nelayan. Pasalnya, sebagian besar nelayan berusia di atas 40 tahun. Ia tak pernah lagi menemukan nelayan muda.
Gede mengaku akan terus mengembangkan aplikasi Fish Go guna mempermudah kerja kerja para nelayan. Sehingga suatu saat, Fish Go juga dapat membangun asa bagi para nelayan muda. (Ni Komang Erviani)
