Tegeh Sari Tetap Berseri di Tengah Emergency

Tumpukan sampah jadi pemandangan yang seolah olah lumrah di sepanjang jalan di Kota Denpasar belakangan ini, menyusul terjadinya kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarbagita di Suwung, Denpasar.

Kebakaran yang sudah berlangsung selama berminggu minggu, membuat TPA terbesar di Bali itu tidak lagi menerima pasokan sampah. Kondisi ini diperparah dengan terjadinya kebakaran di beberapa TPA lain di Bali. Atas kondisi ini, Bali bahkan telah menerapkan status darurat bencana kebakaran.

Namun pemandangan tumpukan sampah itu tak nampak di wilayah Banjar Tegeh Sari, Desa Tonja, Denpasar. 

BANK SAMPAH- Banjar Tegeh Sari di Desa Tonja, Denpasar, memiliki 4 bank sampah. (Ni Komang Erviani)

“Sebagian besar sampah organik di Tegeh Sari sudah kami olah. Yang anorganik dikirim ke bank sampah. Jadi yang dikirim ke TPA hanya residunya saja. Otomatis volume sampah di sini sedikit,” ujar I Putu Adi Tama, Penyarikan Banjar Tegeh Sari.

Meski wilayahnya kecil, hanya 1 kilometer persegi, namun Banjar Tegeh Sari rupanya memiliki sedikitnya empat bank sampah. Swakelola sampah benar-benar diupayakan secara optimal oleh masyarakat di banjar ini.

Tak hanya mengandalkan bank sampah, masyarakat Banjar Tegeh Sari juga mengandalkan teba di rumahnya masing masing. Di dalam teba inilah, sampah sampah organik disimpan dalam rentang waktu tertentu hingga berubah menjadi kompos.

Beberapa orang mungkin menduga, “wah hebat warga Tegeh Sari masih punya teba”.

“Di Tegeh Sari, kami mengembangkan teba modern,” ujar Adi Tama.

Teba adalah lahan kosong yang biasanya ada di belakang rumah dengan banyak tanaman lebat. Bagi masyarakat Bali di masa lalu, teba menjadi tempat menanam berbagai tanaman yang digunakan untuk kegiatan adat dan upacara, sekaligus tempat pembuangan sampah.

“Karena dulu sebagian besar sampah yang kita hasilkan adalah sampah organik, tidak ada sampah plastik. Jadi di teba inilah, sampah sampah organik biasa ditimbun, dan dibiarkan menjadi kompos penyubur tanaman,” jelas Adi Tama.

Menyusul sudah menyempitnya lahan lahan masyarakat saat ini, sebagian besar teba umumnya sudah berubah fungsi. Sebagian besar masyarakat sudah tak lagi memiliki teba. Menyadari hal itu, Banjar Tegeh Sari mengembangkan teba modern.

Teba modern merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut lubang sedalam sekitar 1 meter persegi yang digunakan untuk menyimpan sampah organic.  Dalam rentang waktu tertentu, sampah-sampah tersebut akan berubah menjadi kompos.

“Saat ini sudah ada 24 titik lubang teba di Banjar Tegeh Sari. Pembangunannya sangat dibantu Astra,” ujar Adi Tama.

SOLUSI LAHAN SEMPIT – Seorang warga Banjar Tegeh Sari , Desa Tonja, Denpasar, tengah membuang sampah organik ke dalam teba modern, istilah yang digunakan untuk menyebut lubang komposting alami yang mengadopsi kearifan lokal Bali. (Ni Komang Erviani)

PT. Astra Internasional Tbk memang memberikan dukungan bagi masyarakat Banjar Tegeh Sari belakangan ini melalui program Kampung Berseri Astra. Banjar Tegeh Sari pun ditetapkan menjadi salah satu Kampung Berseri Astra (KBA) di Indonesia.  Selain pembangunan teba, Astra juga mendukung beberapa program di wilayah Tegeh Sari, termasuk pendidikan lingkungan, kesehatan dan lainnya.

Keberadaan teba itu menurut Adi Tama sangat efektif untuk mengurangi jumlah sampah di wilayah Banjar Tegeh Sari. Ia mencontohkan, saat ada upacara piodalan di pura yang berada di Balai Banjar Tegeh Sari, seluruh sampah organic dari upacara tersebut dimasukkan ke dalam dua lubang teba di dalam area banjar.

“Jadi semua canang, daun daun, bunga dan semua yang organik, semua masuk ke situ. Udah nggak ada lagi sampah yang harus dibawa keluar dan memenuhi TPA,” kata Adi Tama.

Memiliki 1,300 kepala keluarga, Banjar Tegeh Sari rupanya telah membangun gerakan kolektif berbasis lingkungan dan literasi sejak lama. Tak kurang dari 20 tahun. 

Banjar Tegeh Sari memiliki Yayasan Banjar Tegeh Sari yang fokus pada berbagai program lingkungan dan pendidikan masyarakat. Hasilnya, kesadaran masyarakat untuk memilah sampah, mengolah sampah organik, serta mendaur ulang sampah anorganiknya sudah terbangun dengan baik.

Selain membangun teba yang diharapkan bakal ditambah dalam beberapa waktu ke depan, masyarakat Banjar Tegeh Sari juga membangun biopori di masing masing rumah. Tak kurang dari 1.000 biopori telah dibangun, berfungsi untuk penyerapan air dan mencegah banjir.

I Gede Mantrayasa, Ketua Yayasan Banjar Tegeh Sari, menjelaskan fokus kegiatan yayasan tidak hanya pada pengelolaan sampah. Pendidikan lingkungan juga dibangun sejak dini dengan mengadakan extrakurikuler lingkungan bagi siswa SD 5 Tonja yang berlokasi di wilayah Banjar Tegeh Sari.

Masyarakat Banjar Tegeh Sari juga melakukan gerakan pemanfaatan lahan lahan kosong untuk ketahanan pangan. Gerakan ini juga melibatkan para remaja Tegeh Sari untuk menanam berbagai tanaman pangan di tanah kosong. Seluruh masyarakat juga diperbolehkan memetik hasil dari kebun kebun tersebut dengan jumlah secukupnya.

“Idenya sebenarnya muncul saat kami rutin melakukan aksi bersih bersih di lahan kosong ini. Karena selain sering dipakai buang sampah oleh orang nggak bertanggung jawab, tanaman liarnya juga bikin pemandangannya jelek. Saat kami bersih bersih, kami pikir kenapa nggak dimanfaatkan untuk bercocok tanam saja, selama lahannya belum dimanfaatkan oleh pemiliknya,” ujar Mantrayasa, sembari menyebut program itu dilakukan setelah ada persetujuan pemilik lahan.

Sahabat Alam (Salam) Natah Rare, kelompok remaja peduli lingkungan di Banjar Tegeh Sari, menjadi salah satu punggawa dalam mengolah lahan di salah satu lahan kosong tersebut.

KETAHANAN PANGAN – Remaja di Banjar Tegeh Sari, Desa Tonja, Denpasar, yang tergabung dalam Sahabat Alam Natah Rare tengah bercocok tanam di lahan kosong.

“Kami menanam semua tanaman ini untuk bisa dikonsumsi sendiri oleh masyarakat Tegeh Sari,” kata Ni Putu Deswita Cintya Wiguna, Ketua Salam Natah Rare Tegeh Sari sembari menunjukkan beberapa jenis tanaman.

Di lahan tersebut,  Deswita dan teman temannya menanam cabai, sereh, singkong, dan beberapa tanaman pangan lainnya.

Selain menanam tanaman pangan, Salam Natah Rare juga telah menggelar berbagai kegiatan sosialisasi terkait lingkungan untuk remaja di lingkungan Tegeh Sari. Pada Juni lalu misalnya, Salam Natah Rare juga menggelar Pesraman Hijau yang menyasar siswa SD di wilayah Desa Tonja. Dalam kegiatan Pesraman Hijau tersebut, para siswa SD diberi informasi tentang bagaimana menerapkan gaya hidup ramah lingkungan.   

Deswita menyebut ia dan teman temannya merasa senang dapat berkontribusi untuk lingkungan di Banjar Tegeh Sari. Perempuan 15 tahun itu menyebut, pihaknya berharap kontribusinya dapat membuat Banjar Tegeh Sari makin berseri. (Ni Komang Erviani)

Leave a comment