Dana Pariwisata Aceh Ratusan Miliar

KUTA – Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD-Nias mengalokasikan dana untuk pembangunan sektor pariwisata Aceh hingga ratusan miliar rupiah. Alokasi dana untuk pembangunan pariwisata oleh BRR dimulai tahun lalu dengan alokasi dana sebesar Rp 21 miliar. Tahun ini alokasi dana tersebut ditingkatkan hingga beberapa kali lipat.
“Tahun ini BRR mengalokasikan dana ratusan miliar untuk membangun pariwisata di Aceh,” ujar Manajer Tim Komunikasi Kedeputian Ekonomi dan Usaha BRR NAD-Nias, Badrul Fadhil, kemarin di Kuta. Dalam kesempatan tersebut dirinya menyatakan Aceh menjadi daerah dengan potensi pariwisata yang luar biasa. Ada sekitar 400 objek dan potensi daya tarik wisata.
“Selama satu dekade pariwisata Aceh mati. Kita sejak tahun 2007 mulai melaksanakan program pembangunan sektor pariwisata,” tandasnya. Baik pemerintah dan masyarakat selama ini belum sadar dan bergerak untuk menjadikan sektor pariwisata sebagai penggerak ekonomi Aceh. Sekitar 1.200 non government organization (NGO) datang ke Aceh usai tsunami.
Mereka adalah relawan yang ingin membantu Aceh setelah mengalami tsunami. Kedatangan mereka seharusnya bisa dimanfaatkan sebagai wisatawan. Banyak orang kaya dan donatur yang tinggal atau berkunjung ke Aceh untuk membantu Aceh. Mereka memerlukan akomodasi dan fasilitas lain selama mereka di Aceh. “Semua potensi itu selama ini sama sekali belum tersentuh,” ujarnya.
Dikatakan untuk membantu pembangunan dan pemulihan kondisi Aceh BRR memiliki budget sekitar Rp 35 triliun. Dana ini sebagian digunakan untuk membangun infrastruktur fisik, mental, termasuk pembangunan sektor usaha pariwisata. “Awalnya budget kita terbesar adalah untuk pembangunan infrastruktur. Namun sejak tahun lalu pembangunan fisik makin sedikit dan kita kini fokus untuk membangun ekonomi Aceh termasuk pariwisata,” tandasnya.
Berbagai langkah nyata kini ditempuh oleh BRR dan pemerintah daerah untuk mengembalikan ekonomi Aceh. BRR dengan berbagai program melaksanakan pelatihan dengan mengirimkan orang-orang Aceh ke luar Aceh termasuk Bali. “Kita saat ini mengirimkan sekitar 70 orang Aceh untuk belajar mengenai pariwisata di Bali,” katanya.
Menurutnya, Aceh setelah mengalami bencana mulai lebih terbuka terhadap dunia luar. Namun demikian dirinya menilai sebagian masyarakat Aceh khususnya yang berada di pedesaan masih sulit menerima sektor pariwisata. “Saya sebagai orang Aceh yang lama di luar Aceh masih melihat sebagian orang Aceh belum bisa menerima pariwisata,” katanya. Ia berharap pemerintah Aceh mulai memberikan pengertian jika pariwisata bisa membawa kesejahteraan.
Lebih lanjut Badrul mengatakan, Tsunami yang telah merenggut ratusan ribu jiwa adalah bencana kemanusiaan. Namun di Balik semua itu bencana tersebut juga menjadikan Aceh dikenal di seluruh Dunia. “Kita memang tidak pernah mengharapkan bencana. Semua sudah terjadi dan sekarang dari balik bencana itu Aceh harus bangkit,” imbuhnya. Bahkan dirinya menyatakan bekas tsunami tersebut akan menjadikan orang tertarik datang ke Aceh.
Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Aceh Arifin menjelaskan potensi wisata di Aceh sangatlah besar. Pasalnya, Aceh punya banyak lokasi obyek wisata alam maupun bahari yang bisa dikembangkan. “Sebagian besar masyarakat Aceh kini sudah terbuka pada dunia pariwisata,” ujarnya.[ni komang erviani]

One comment

Leave a comment